Tampilkan postingan dengan label PADI Edisi 16 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PADI Edisi 16 2008. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2009

Dokumentasi

DPD PERPADI Jawa Tengah Lantik DPC PERPADI Kebumen

Tanggal 26 Juli 2008 DPD Perpadi Jawa Tengah melantik pengurus DPC PERPADI Kabupaten Kebumen periode 2008-2013 di bawah kepemimpinan Rudiyanto, S.Pd. Prosesi pelantikan sendiri dilakukan langsung oleh Ketua DPD PERPADI Jawa Tengah Drs. Muhadi dan disaksikan oleh Herry Artono, pengurus DPP PERPADI, dan pejabat daerah terkait.

Usai pelantikan dilanjutkan dengan acara Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) DPC PERPADI Kabupaten Kebumen. Dalam acara tersebut, salah satunya menyinggung mengenai masalah makin maraknya penggilingan padi keliling di Kebumen, yang mengganggu keberadaan penggilingan padi statis. DPC PERPPADI Kebumen menghimbau kepada pemerintah daerah agar segera turun tangan untuk membenahi masalah tersebut agar keberadaan penggilingan padi keliling ini tidak semakin mencekik keberadaan penggilingan padi statis yang notabene lebih legal karena mempunyai badan hukum yang jelas.AJI

DPC PERPADI Purbalingga Gelar Konsolidasi

DPC PERPADI Purbalingga yang belum lama ini dilantik melakukan gebrakan dengan menggelar rapat konsolidasi dengan pengurus dan anggota PERPADI di 18 kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Rapat konsolidasi yang dilaksanakan dengan mendatangi satu per satu kecamatan ini dilaksanakan secara maraton mulai 4-27 Juli 2008.

Rapat konsolidasi ini dilaksanakan sebagai bentuk keseriusan DPC PERPADI Purbalingga untuk mengakomodir semua aspirasi anggotanya, terutama melihat langsung kegiatan produksi giling beras musim tanam April–September 2008. Di samping itu sekaligus juga untuk memperbaharui data jumlah anggota penggilingan padi di Kabupaten Purbalingga yang tercatat sebanyak 461 anggota yang hampir semuanya masih tergolong penggilingan padi sederhana.

Dalam rapat konsolidasi tersebut dibahas mengenai produksi giling beras yang belum maksimal untuk musim tanam April – September 2008. Menurut ketua DPC PERPADI Purbalingga, Dwi Waluyono, setiap harinya penggilingan hanya bekerja rata-rata 3–4 jam saja per harinya, sehingga banyak yang tidak bekerja. Jika ditarik kesimpulan, tambah Dwi, bahwa kondisi yang sudah ada sudah mencapai titik jenuh karena terlalu banyak penggilingan padi, sehingga luas cakupan areal sawahnya rata-rata hanya 66 ha per penggilingan per tahun. Masalah sedikitnya luas cakupan areal sawah per penggilingan padi ini diperparah dengan banyaknya gabah yang terserap ke luar Kabupaten Purbalingga.

DPP PERPADI Lantik DPD PERPADI Kalimantan Barat

Pada 12 Agustus 2008, DPD PERPADI Kalimantan Barat periode 2008–2013 dilantik. Prosesi pelantikan sendiri dilakukan langsung oleh Ketua Umum DPP PERPADI, M. Nur Gaybita. Melalui Musyawarah Daerah (Musda) terpilihlah Ir. Elias Ahie, MM sebagai Ketua DPD PERPADI Kalimantan Barat. Dalam sambutannya Ketua Umum DPP. PERPADI, M. Nur Gaybita menyampaikan bahwa penggilingan padi merupakan embrio bagi industrialisasi pertanian di pedesaan. Oleh karenanya sangat tepat apabila Musda ini dapat dijadikan momentum untuk menggerakkan penggilingan padi agar dapat berperan secara utuh dalam memajukan agribisnis perberasan daerah maupun nasional.AJI

Studi Banding Perberasan Ke Vietnam

Guna memperkaya wawasan mengenai perberasan DPP PERPADI mengadakan Studi Banding Perberasan ke Vietnam, pada 18-22 Agustus 2008. Acara ini diikuti oleh 53 peserta dari berbagai daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat.

Di sana peserta diajak untuk mempelajari sistem perberasan dengan mengunjungi beberapa penggilingan padi & integrated farming di beberapa kota, seperti penggilingan padi di Chau Doc dengan kapasitas 10 ton per jam, penggilingan padi di Long An City dengan kapasitas 10 ton per jam, Soha Farm dengan integrated farming-nya di Chan Tho, serta ke Rice Milling Polish Gentraco dengan kapasitas 30 ton per jam.

Selain mengunjungi tempat-tempat yang terkait dengan masalah perberasan, peserta juga masih berkesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata setempat, seperti perkampungan muslim di Vietnam Cham Village, tempat bersejarah perang antara Vietkong dengan tentara Amerika yang disebut Cu Chi, serta Internasional Vietfood Expo.AJI

Kamis, 08 Januari 2009

Agrowisata

Menikmati Nyanyian Dewi Sri

Kebun Wisata Pasirmukti

Suasana pedesaan yang sangat menyegarkan. Kebun wisata ini menawarkan panorama hamparan sawah di antara kebun buah, kolam ikan, dan tempat bermain yang menyenangkan. Tak hanya berwisata, Anda dapat mengenal tentang pertanian melalui sarana yang mendidik sekaligus menghibur.

Kembali ke alam. Begitulah kesan saat bertandang ke area wisata Pasirmukti. Hamparan sawah nan hijau tampak menyegarkan di penglihatan. Begitu pula dengan rerimbunan pohon buah dan teduhnya kolam pemancingan. Di beberapa sudut tersedia sarana permainan yang menghibur.

Kawasan yang terletak di antara Desa Tajur, Pasirmukti, dan Gunungsari, Kecamatan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, ini memang memiliki lingkungan yang ramah dengan panorama indah. Sejak dibuka, wisata agro ini dimaksudkan untuk memberikan pengenalan dan pengetahuan pertanian bagi pengunjung khususnya generasi muda Indonesia.

Kebun Wisata Pasirmukti ini terbuka untuk umum setiap hari termasuk hari libur nasional. Bermacam paket wisata dengan kisaran harga mulai dari Rp 12 ribu hingga Rp 300 ribu per orang. Sejumlah paket wisata dimaksud antara lain Paket Edukatif Agropintar yang dirancang secara menarik, menyenangkan, dan mencerdaskan. Ada pula paket wisata yang melibatkan anak-anak, seperti Paket Agro Junior, Paket Anak Tani, dan beragam paket lainnya.

Bagi Anda yang gemar bertualang, tersedia Paket Agro Adventure yang menawarkan berbagai kegiatan menantang, seperti off road track, menguji daya tahan, membajak sawah, menanam padi, hingga petualangan malam hari. Selain itu, ada pula Paket Ceria, Paket Lansia, Paket Tangkas, serta Paket Kemping yang bisa Anda nikmati.

Saat liburan sekolah, rasanya tidak ada salahnya jika Anda mengajak anak-anak piknik ke sebuah dunia yang berbeda. Di Pasirmukti, Anda bisa mendapatkan semua keperluan untuk anak Anda bermain, bersenang-senang, belajar, sekaligus dekat dengan alam. Memang, sarana permainan maupun sarana belajar juga tersedia di sana.

Kawasan wisata ini menyajikan berbagai panorama, termasuk aneka tanaman hias yang memikat mata. Beberapa fasilitas yang tersedia seperti aneka anggrek, seperti dendrobium, phalaenopsis, oncidium, cattleya serta aneka tanaman hias lainnya juga tersedia. Tak hanya sekedar melihat-lihat, Anda juga akan memperoleh tips dan demo perawatan tanaman hias ini. Siapa tahu Anda berniat menjadi pebisnis tanaman hias di kemudian hari.

TABOLAMPOT: Pengunjung juga dapat menikmati acara petik buah yang merupakan salah satu acara andalan Kebun Wisata Pasirmukti. Anak-anak tentu amat menyukai permainan yang tidak pernah mereka jumpai sebelumnya. Permainan kembali ke alam dan menjadi anak tani merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka, juga permainan tarik tambang, tangkap belut, dan adu tinju di kolam lumpur akan menjadi pengalaman unik dan menggembirakan.

Lokasi dengan lahan luas berumput hijau di antara pepohonan, pemandangan asri kebun buah, hamparan sawah, aliran sungai dan bukit karang, menikmati api unggun pada malam hari sangat tepat untuk liburan keluarga, merupakan fasilitas yang Anda nikmati selain kegiatan retreat atau pelatihan outbound.

Anda dapat menggunakan fasilitas Combat Battle Field. Kalau datang ramai-ramai, Anda bisa menyewa peralatan tempur yaitu seragam, goggles, senapan dan paintball-nya untuk main perang-perangan. Terdapat juga medan untuk pertempuran, kalau Anda mau beraksi seakan pasukan SWAT. Selain itu, berolahraga di alam terbuka atau merayakan ulang tahun dalam suasana "garden party" memberikan nuansa alam yang romatis dan indah.

Mengamati dan mempelajari aneka tanaman buah tropis menambah wawasan pengetahuan kita. Sarana halaman yang terbatas bukan alasan untuk tidak memiliki kebun buah. Tersedia berbagai jenis tanaman buah favorit Anda. Pengelola pun menyediakan paket pelatihan agrobisnis dan demo "tabulampot" atau tanaman buah dalam pot bagi pengunjung.

Di sini tersedia berbagai jenis tanaman buah favorit seperti misalnya Jambu, Belimbing, Jeruk dan lain sebagainya. Apabila kita menikmati jus di restoran ini, akan terasa jus yang dihidangkan begitu kental dan segar, karena produksi dari kebun sendiri.

KOLAM PANCING: Untuk melengkapi suasana liburan, Anda bisa menjajal kemampuan memancing di kolam pemancingan yang berisi ikan mas, nila, gurame, dan patin. Memberi makan dan belajar memancing merupakan atraksi menarik yang bisa menambah pengetahuan bagi anak dan orang tua. Anda juga dapat menikmati hasil pancingan bersama teman-teman dan keluarga sungguh asyik sekali.

Wisata Pasirmukti juga memiliki sebuah restoran yang unik. Meskipun terletak di desa Citeureup, namun restonya menghidangkan menu khas Minahasa dan makanan nasional lainnya. Sambil menikmati ayam bakar rica atau ikan woku, Anda resapi indahnya hamparan sawah diantara kebun buah. Pada hari tertentu akan dihibur grup musik "kolintang".

Di siang hari, Anda dapat mengikuti beragam acara, seperti Padi Bernyanyi, sebuah acara ini gelar di suatu tanah lapang yang luas di tepi sawah, di mana kita dapat melihat pertunjukkan bagaimana cara menanam padi, membajak sawah, serta serunya anak-anak bermain lumpur di kolam lumpur sambil diiringi musik Kulintang yang membawakan lagu Menanam Padi.

Anda juga dapat melihat orang menanam padi bahkan dapat ikut juga belajar menanam padi, membajak di sawah, atau memandikan kerbau. dan aktivitas lainnya yang menarik yang hanya ada di pedesaan. Beragam atraksi yang khas dan dibawakan langsung oleh ibu dan bapak tani serta keluarganya.

Malam hari, sambil menikmati makan malam, Anda dihibur dengan atraksi-atraksi yang menarik, dengan acara Games Kuiz berhadiah. Memang, jika Anda berniat menginap, tersedia fasilitas bungalow lengkap dengan ruang pertemuan dengan kapasitas terkecil bisa menampung ratusan orang.

Bungalow ini di desain untuk acara pertemuan atau rapat kerja bagi keluarga besar, organisas,i dan perusahaan. Tersedia ruang pertemuan dari yang terkecil hingga kapasitas besar dengan pemandangan alam yang asri. Fasilitas pertemuan yang disediakan memang dimaksudkan untuk mendukung kesuksesan acara Anda.

Berlibur atau berakhir pekan bersama keluarga di rumah panggung Minahasa dengan kenyamanan fasilitas layaknya hotel berbintang sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Duduk di teras menikmati desiran angin di pagi hari, menyusuri kebun buah, sungai dan pematang sawah memberikan sensasi tersendiri.

Untuk berlibur di Pasirmukti, setidaknya Anda harus membawa pakaian santai dan tidak membawa binatang piaraan. Untuk aktivitas outdoor, Anda harus menyiapkan sejenis topi atau payung guna menghindari terpaan sinar matahari secara langsung. Jadi, sediakan waktu Anda dan keluarga untuk memanjakan diri sekaligus mendekatkan diri pada alam yang sejuk dan penuh damai. QYH/AJI

Kebun Wisata
PasirmuktiJl. Raya Tajur Pasirmukti km. 4Citeureup - BogorTel. (021) 8794 3864/65,
Fax. (021) 8794 3866E-mail:
pasirmukti@cbn.net.id
http://www.pasirmukti.co.id

Kantor JakartaJl. S. Iskandar Muda 2AArteri Pondok Indah, Jakarta - SelatanTel. (021) 739 8808, Fax. (021) 739 8886E-mail :
kebun@pasirmukti.co.id

Rabu, 07 Januari 2009

Varia

Benih Pembawa Kesejahteraan

Varietas MSP

Berbagai kegiatan pemuliaan padi dengan cara melakukan inovasi dan temuan baru di bidang perbenihan terus dilakukan sejumlah elemen bangsa. Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan tanah air. Salah satunya, benih MSP ini.

Ada yang menyebut MSP dengan kepanjangan ”Mari Sejahterakan Petani”. Banyak pula pihak yang menamakannya dengan ”Mega Sejahterakan Petani” yang sekaligus mengaitkannya dengan tokoh politik ”Megawati Soekarnoputri”. Karenanya, banyak yang menduga-duga bahwa ada gerakan politik dari kelompok tertentu terkait dengan gelaran Pemilu 2009 dengan keberadaan MSP ini.

Namun, terlepas dari itu semua, kita juga perlu memandang MSP dengan kacamata yang lebih objektif. Padi MSP pertama dicanangkan oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, pada 18 Desember 2007 di Cariu, Bogor. Setelah itu, acara pencanangan tersebut diikuti dengan panen raya padi MSP di berbagai wilayah di berbagai propinsi di Indonesia seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Lampung, dan beberapa propinsi lainnya. Jumlah rata-rata padi kering giling MSP yang berhasil dipanen di berbagai wilayah pada saat itu kabarnya adalah di atas 12 ton per ha.

Diakui, padi temuan Surono, seorang Insinyur dari Institut Pertanian Bogor, ini di berbagai daerah yang ditanami padi MSP hasilnya cukup bagus. Seperti yang ditanam di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Padi MSP yang ditanam di areal persawahan Desa Sianipar Sihail-hail, Kecamatan Balige, itu menghasilkan 11,2 ton per ha.

Menurut hitungan lokal, hasil tersebut setara dengan 40 kaleng per rantenya atau lebih tinggi dari padi selain padi MSP yang ditanam sebelumnya yang hanya menghasilkan 20 kaleng per rante. Bahkan, menurut pengakuan anggota DPRD Tobasa, Ir Viktor Silalahi, hasil tersebut disebutnya belum maksimal karena sampai dengan panen baru satu kali dipupuk. Hal itu menurutnya, karena langkanya pupuk bersubsidi di Kabupaten Toba Samosir.

Sementara di daerah lain, di kota Denpasar atau tepatnya di Kelurahan Peguyangan, acara panen padi MSP yang juga dihadiri Walikota Denpasar, Bali, A.A. Puspayoga, hasilnya pun cukup bagus. Seperti yang dituturkan Agung, sebagai penanam padi MSP di sana, secara umum bibit MSP mempunyai kelebihan jumlah produksi yang melebihi bibit lainnya sampai 30 persen, ketahanan terhadap hama, dan dapat dipanen dalam waktu singkat.

Di Sumenep, Madura, tepatnya di Desa Karay, Kecamatan Ganding, hasil panen padi MSP, yang awalnya disebut Sertani I, juga cukup bagus. Pasalnya, dari 10 ha lahan sawah yang ditanami padi MSP mampu menghasilkan gabah 110 ton atau 11 ton per ha.

Senada dengan fakta-fakta tersebut, Ketua DPP PDI Perjuangan Mindo Sianipar dan Theo Syafei juga membeberkan fakta keunggulan padi MSP tersebut yang telah dibuktikan pada sejumlah daerah di pulau Jawa seperti Jember yang sebanyak 18,6 ton per ha, Ngawi 15 ton per ha, Madiun 14,4 ton per ha, dan Aceh Tenggara 8,7 ton per ha.

Sebagai sebuah varietas baru, padi MSP ternyata belum mengantongi sertifikat dari Departemen Pertanian. Untuk itu, kehadirannya sebetulnya belum bisa dikatakan sebagai varietas unggul. Menurut Mentan, Anton Apriyantono, sebagai varietas uji coba yang tidak bersertifikat, seharusnya luas tanam yang diuji coba tidak melebihi 10 ha. Entah mengejar target apa, MSP dan juga beberapa varietas lain justru telah jauh melebihi batas areal lahan percobaan yang seharusnya hanya dibatasi 10 ha.

Tak terelakkan lagi, wacana bahwa padi atau produk akhirnya yaitu beras merupakan komoditas politik telah terjadi. Sejatinya, sebagai sebuah hasil karya penemuan yang akan menjadi hajat hidup orang banyak tidak diklaim kelompok per kelompok yang hanya digunakan untuk kepentingan jangka pendek semata. Akan tetapi, mestinya justru menjadi harapan banyak orang tanpa membuat orang kemudian harus menentukan pilihan politiknya yang notabene menjadi hak azasi setiap individu.

Di tengah-tengah gemuruhnya panggung politik saat ini yang sedang khusyuk mempersiapkan pertempurannya di ajang pemilu 2009, berbagai senjata politik pun dipersiapkan. Beberapa di antaranya, menggunakan komoditi yang telah lama dikenal sebagai komoditi politik paling superior di negeri ini yang tak lain adalah padi. Salah satunya PDI Perjuangan) yang hadir dengan padi MSP.

Mindo Sianipar, Anggota DPR RI, dengan terang-terangan menyebut MSP sebagai padi Megawati. “Sebut saja ini padi Megawati. Petani yang menanam adalah komunitas MSP yang memenangkan Mega tahun 2009,” katanya pada saat panen padi MSP di desa Bagorejo kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember Jawa Timur.

Namun demikian, kita juga harus tetap objektif melihat kondisi ini. Semoga saja padi MSP ini tidak hanya dijadikan senjata dalam menghadapi pemilu 2009. Akan tetapi, lebih jauh lagi semoga bisa betul-betul membantu memperkuat ketahanan pangan nasional yang terbukti teruji keunggulannya melalui mekanisme uji yang objektif. Jadi, kita tunggu saja hasilnya. AJI

Tips


Menyiapkan Hidangan Sehat Saat Lebaran

Ramadan telah tiba. Selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, salah satu yang paling berkesan bagi umat muslim adalah waktu berbuka puasa, sahur, hingga tradisi lebaran. Kegiatan-kegiatan ini tentu terasa lebih nikmat jika dilakukan dengan menyiapkan berbagai hidangan istimewa untuk dinikmati bersama keluarga.

Pada dasarnya makanan yang dikonsumsi selama bulan puasa sama saja dengan hari-hari biasa. Tinggal bagaimana memvariasikan menu empat sehat lima sempurna. Bedanya terletak pada cara mengonsumsi hidangan tersebut. Mengonsumsi makanan setelah berpuasa membutuhkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan supaya kesehatan tetap terjaga. Kiat berikut ini diharapkan dapat membantu Anda menyiapkan hidangan, sehingga menunjang kesehatan Anda selama menjalankan ibadah puasa:

1. Selama berpuasa, pencernaan istirahat selama kurang lebih 14 jam. Saat waktu buka datang, cara yang baik berbuka puasa tetap dimulai dengan makanan yang manis. Berbuka dengan yang manis membantu menormalkan gula darah dalam tubuh dan makanan tersebut mudah diserap, sehingga energi yang hilang selama berpuasa, dapat diganti lebih cepat dan tubuh kembali bertenaga.

2. Selain manis, Anda juga dapat mengawali buka puasa dengan makanan ringan, seperti buah kurma, kolak, dan camilan lain. Cara makan yang bertahap seperti ini, pencernaan bekerja secara bertahap sehingga tidak kaget. Di samping itu, suhu makanan atau minuman sebaiknya tidak ekstrem, seperti minuman es dan juga yang panas. Suhu yang terlalu ekstrim juga akan mengganggu pencernaan.


3. Ramadan juga menjadi kesempatan bagi para ibu untuk menyajikan hidangan istimewa dari tangannya sendiri. Apalagi bulan puasa datangnya cuma sekali dalam setahun, jadi maknanya terasa berbeda kalau makanan yang disajikan dimasak sendiri. Saat menyajikan menu buka puasa, Anda dapat menyajikan menu-menu kesukaan keluarganya.

4. Menurut beberapa ahli gizi, menghidangkan buka puasa dengan membeli makanan di luar tidak masalah selama jenis makanan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan untuk berbuka. Tapi sebaiknya tidak asal membeli, harus paham mengenai jenis makanan apa yang baik untuk berbuka puasa. Hanya saja, menyajikan makanan dengan mengolah sendiri tetap jauh lebih baik dari pada membeli yang sudah jadi. Selain terjamin dari kebersihan, juga kualitas barang yang digunakan juga lebih baik.

5. Demikian juga halnya dengan hidangan saat sahur. Hidangan sahur sebaiknya menyajikan makanan yang hangat untuk menjaga selera makan. Usahakan untuk tidak menyajikan makanan yang pengolahannya diulang. Sebab, makanan yang diolah ulang kandungan gizinya kurang baik.

6. Saat sahur, beberapa jenis zat makanan porsinya hendaknya lebih banyak, seperti protein dan serat alami. Kedua zat ini akan memberi rasa kenyang yang lama dan protein bisa mengganti karbohidrat sebagai cadangan energi yang cukup selama menjalankan puasa.

7. Agar hidangan tidak membosankan, variasi menu, pola, maupun cara penyajian juga perlu dilakukan. Saat buka, buah bisa diganti-ganti atau dikombinasikan dengan jenis buahan lain. Demikian juga dengan makanan utama, seperti nasi dan lauk pauknya. Sesekali buat variasi agar selera makan Anda dan keluarga senantiasa terjaga.

Menjalankan ibadah puasa dengan aktivitas yang tetap tinggi memang sangat perlu memperhatikan pola makan yang sehat saat buka puasa, demikian juga dengan sahur. Pola makan sehat tersebut tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga dapat diterapkan terhadap anggota keluarga yang lain. Semoga Ramadan kali ini memberikan berkah bagi kita semua. QYH

Sosok

ANTON APRIYANTONO

MOTOR PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL

Jika ada sosok yang disebut sebagai motor penggerak pembangunan pertanian di Tanah Air, maka Menteri Pertanian Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS layak ditempatkan di urutan teratas. Tak hanya memiliki kewenangan yang luas, baik dalam program, kebijakan, penerapan, hingga pengawasan, ia juga memiliki kemampuan dan kapasitas yang mumpuni dalam memajukan sektor ini.

Mantan dosen Departemen Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sejak awal memang memiliki tekad dan komitmen yang kuat untuk memajukan sekaligus menyejahterakan petani dan pertanian kita. Apalagi, sebagai orang nomor satu di jajaran Departemen Pertanian (Deptan), pria kelahiran Serang, 5 Oktober 1959 ini memiliki otoritas yang tinggi dalam menentukan kebijakan pembangunan pertanian nasional.

Dalam pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, dalam rangka uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon anggota menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu, ketika ia terpilih menjadi Presiden, Anton Apriyantono menyampaikan tiga program unggulan yang harus dilakukan guna memajukan sektor agraria, yakni peningkatan ketahanan pangan,peningkatan kesejahteraan petani, dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Tiga hal ini yang menjadi pijakan utama dalam setiap kebijakannya. Menurutnya, kebijakan yang akan disusun harus benar-benar berpihak kepada petani. Selama ini, pertanian identik dengan kesan kumuh, becek, dan terbelakang. “Padahal pertanian tidak hanya bercocok tanam, tapi mencakup berbagai aspek, termasuk agroindustri,” katanya kepada Qusyaini Hasan, Tri Aji, dan Safitri Agustina dari Majalah PADI saat menemuinya di ruang kerjanya di Gedung A Lantai II, Deptan, Ragunan, Jakarta.

Menurutnya, membangun sektor pertanian ke depan berarti menyejahterakan petani, peternak, pemilik kebun, dan petani lainnya. Dengan demikian, sektor pertanian tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi, tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. “Oleh karena itu, diperlukan suatu perubahan penting, yaitu agar pembangunan pertanian berpusat kepada manusianya,” kata Anton.

Demi kemajuan di bidang pertanian, Mentan Anton Apriyantono tak kelah lelah untuk terus berjuang. Sosialisasi dan kampanye tentang pentingnya swasembada pangan senantiasa ia gelorakan. Ia pun mengajak para gubernur dan bupati seluruh Indonesia untuk kembali menghidupkan lumbung pangan di daerah masing-masing. Keberadaan lumbung pangan dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Anton yang juga selaku Ketua Pelaksana Harian Dewan Ketahanan Pangan Nasional berujar, “Ketahanan pangan secara nasional sesungguhnya juga tergantung pada kesiapan masing-masing daerah.”

Sebagai bukti akan kesungguhannya dalam memajukan pertanian, ia mengobarkan tekad dan semangat untuk memperbaiki citra pertanian. Anton, panggilan akrabnya, pun tak ragu untuk turun ke sawah dan berbecek-becek dengan petani. Kehadirannya seringkali menyemarakkan acara tanam perdana, panen bersama, ataupun memperkenalkan inovasi dan teknologi terbaru di bidang pertanian. “Progam pertanian perlu didukung oleh semua institusi di jajaran Deptan dan institusi terkait lainnya,” tuturnya. Berikut wawancara lengkapnya:

Bisa dijelaskan apa program kerja maupun target Departemen Pertanian di tahun 2008 ini?
Program kerja Deptan tahun 2008 khususnya di sub sektor tanaman pangan adalah peningkatan produksi dan produktivitas dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan sasaran produksi padi 61 juta ton gabah kering giling (GKG), serta jagung 14,5 juta ton pipilan kering. Ada pula program penyebarluasan teknologi pengelolaan sumber daya dan tanaman secara terpadu (PTT) melalui metode sekolah lapangan (SL). Penyebaran tanaman meliputi padi non hibrida seluas 1,5 juta ha oleh 60 ribu kelompok tani, padi hibrida 86 ribu ha oleh 6.500 kelompok tani, dan jagung 200 ribu ha oleh 13.500 kelompok tani.

Bagaimana perkembangan sejauh ini?
Berdasarkan Angka Ramalan II BPS produksi padi tahun 2008 mencapai 59,877 juta ton GKG atau meningkat 2,27 juta ton (4,76%) dari tahun 2007. Jagung mencapai 14,85 juta ton pipilan kering atau meningkat 1,566 juta ton (11,79%) dari tahun 2007. Capaian ini merupakan rekor dalam sejarah pertanian kita.

Produksi beras domestik sejak tahun 2005 sebenarnya tidak ada masalah dalam arti cukup untuk memenuhi kebutuhan. Yang masalah adalah menyangkut keterjangkauan oleh sebagian masyarakat. Harga yang cukup baik dari sisi petani produsen adakalanya dinilai terlalu tinggi dan tidak terjangkau oleh kelompok masyarakat yang masuk katagori miskin.

Pemerintah menargetkan swasembada pangan tahun ini dapat terwujud. Bagaimana prospek atau peluang dalam mewujudkan hal ini?
Ada kesenjangan produktivitas antara potensi dengan kondisi lapangan. Selain itu, tersedianya teknologi (hibrida, umur pendek, SRI, Legowo dll), peluang pasar domestik dan internasiaonal, potensi SDM yang masih dapat ditingkatkan, serta usaha tanaman pangan merupakan peluang investasi (menarik investor). Kami melihat, dukungan yang besar dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, misalnya Sulsel, Gorontalo, Sumsel, dan lain-lain, memiliki potensi dalam memajukan pertanian kita.

Sejauh ini apa kendala dalam mewujudkan hal ini?
Kami menghadapi kebutuhan pangan terus meningkat sering dengan meningkatnya jumlah penduduk. Harga pangan dunia terus meningkat, ketersediaan lahan dan air berkurang, dampak fenomena iklim (banjir, kekeringan dan gangguan OPT), serta infrastruktur pertanian banyak yang rusak. Ada juga akses petani terhadap modal lemah, serta kelembagaan pertanian maupun koordinasi di berbagai tingkatan masih lemah.

Lalu, bagaimana perkembanganya saat ini?
Pada tahun 2008 diperkirakan surplus beras sejumlah 2,11 juta ton. Asumsinya adalah, produksi padi yang mencapai 59,877 juta ton, dengan konversi GKG ke beras tersedia untuk konsumsi manusia 56,64%, maka tersedia 33,91 juta ton beras. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia tahun 2008 sejumlah 228,523 juta orang dan konsumsi pe rkapita per tahun 139,15 kg beras, maka dibutuhkan 31,80 juta ton beras. Untuk itu, saya optimis kita bisa mewujudkan swasembada pangan ini.

Apakah program ini tidak terpengaruh oleh peristiwa krisis pangan global yang sedang terjadi?
Secara tidak langsung memang ada pengaruhnya. Namun berdasarkan data-data yang ada justru pada saat ini kondisi pangan nasional masih aman-aman dan produksi terus meningkat. Kita harus bersyukur ketika negara-negara lain dilanda krisis pangan, Alhamdulillah Indonesia termasuk aman. Ketersedian pangan kita cukup bahkan surplus. Dengan krisis pangan global justru merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi Indonesia yang merupakan negara agraris untuk membuktikan bahwa kita mampu. Banyak investor baik dari dalam maupun luar negeri yang akan melakukan investasi di sub tanaman pangan.

Apa langkah antisipasi agar Indonesia terhindar dari krisis pangan?
Selain memanfaatkan peluang peningkatan produksi padi/beras, maka program diversifikasi pangan non beras harus digalakkan lagi, mengingat Indonesia mempunyai potensi sumber pangan lokal yang sangat beragam di setiap wilayah, seperti sagu, jagung, hingga umbi-umbian. Peran media massa juga sangat penting dalam mendukung hal ini, misalnya tidak memberitakan dengan nada merendahkan masyarakat kita yang mengomsumsi pangan non beras.

Sejauh ini, bagaimana perkembangan program diversifikasi pangan di Indonesia?
Pada intinya penerapan program diversifikasi pangan dilakukan dengan terus mengupayakan pemanfaatan bahan pangan lokal yang jenisnya sangat beragam di negeri kita. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dengan cara lebih mensosialisasikan ragam pangan yang tersedia. Kita juga perlu memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa makan selain beras tidak menurunkan status sosial. Selain itu, diversifikasi pangan juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan sehingga dapat tercapai pola pangan harapan 100, yang pada saat ini baru mencapai skornya 75,6.

Lalu bagaimana soal ketersediaan pangan, khususnya dengan penerapan otonomi seperti sekarang?
Dalam kaitan inilah, saya telah berkirim surat ke semua gubernur dan bupati di seluruh Indonesia untuk meningkatkan ketahanan pangan. Antara lain dengan meningkatkan ketahanan pangan sampai ke tingkat RT/RW. Caranya dengan membuat cadangan pangan di masing-masing RT sekitar 500 kg. Fungsinya sebagai lumbung pangan di wilayah RT masing-masing. Cadangan ini bisa dipakai untuk membantu mereka yang kurang mampu. Entah sebagai pinjaman atau bantuan dari yang kaya atau berkemampuan kepada mereka yang miskin.

***

Pria yang menamatkan pendidikan akademiknya di bidang pertanian dan ilmu pangan, IPB ini dilantik menjadi Menteri Pertanian menggantikan Prof. Dr. Bungaran Saragih, pada Oktober 2004 lalu. Sebelumnya, doktor bidang Kimia Pangan dari University of Reading, Inggris, ini adalah menjadi staf pengajar Departemen Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), IPB, ini dengan jabatan Lektor di Fateta IPB. Ia pun sempat menjadi dosen tamu di National University of Singapore (NUS) pada program Food Science and Technology, auditor di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika (LPOM) MUI, dan sedang dalam pengusulan untuk menjadi profesor atau guru besar di IPB.

Boleh dibilang, hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menggeluti bidang pertanian dan pangan. Suami dari Ir. Rossi Rozanna Septimurni, MKes, yang merupakan peneliti pada Puslitbang Gizi dan Kesehatan Depkes yang berpusat di Bogorm ini dikenal sebagai pria yang sangat bersahaja. “Kesederhanaan penampilan fisik tidaklah harus berarti kesederhanaan berpikir. Saya akan tetap dengan kehidupan yang selama ini sudah berjalan,” katanya.

Sesuai dengan programnya dalam peningkatan ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan nilai tambah produk pertanian, ia menjelaskan bahwa komitmen pemerintah untuk membantu petani tidak perlu diragukan. Selain melanjutkan program bantuan benih unggul, Pemerintah juga berkomitmen untuk tetap menjaga ketersediaan pupuk dengan harga tetap (tidak terpengaruh harga BBM).

Tahun 2008, lanjutnya, pemerintah menyediakan dana Rp 13 triliun untuk subsidi pupiuk. Angka ini hampir dua kali lebih besar dari angka subsidi tahun sebelumnya. Untuk membantu permodalan dan peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah juga telah menggulirkan berbagai program dan skema kredit. ”Antara lain Kredit Usaha Rakyat, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM), dan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Deptan telah menyediakan dana Rp 1,1 trilyun untuk program PUAP di 11.000 desa seluruh Indonesia,” katanya.
***
Bagaimana dengan kebijakan pertanian, khususnya di sektor padi dan perberasan?
Kebijakan yang diambil dalam komoditas padi adalah meningkatkan pendapatan petani dan pelaku agribisnis padi melalui peningkatan produktivitas dan produksi. Hal dimaksudkan untuk mewujudkan swasembada padi/beras secara berkelanjutan. Kami juga tetap memberikan subsidi khususnya benih dan pupuk. Kami juga memfasilitasi pembiyaan, bantuan benih dan peralatan pra dan pasca panen, serta melindungi harga dengan penetapan HPP beras/gabah.

Belakangan ini santer desakan publik agar kita tidak hanya memiliki ketahanan pangan, tapi juga kedaulatan pangan. Apa komentar Anda?
Sesuai dengan konteksnya, pengertian ketahanan pangan terus berkembang, mulai dari ketersediaan pangan, tidak melakukan impor lebih dari 5 persen, bahkan saat ini mengarah kepada istilah kedaulatan pangan. Pada saat ini kita sedang mengarah kepada pencapaian kedaulatan pangan melalui berbagai program pemerintah, seperti program swasembada beras, swasembada daging, swasembada gula, dan lainnya dalam karangka revitalisasi pertanian. Di samping itu, Deptan juga mengembangkan percontohan Desa Mandiri Pangan di beberapa daerah.

Apa benar sampai saat ini kita bisa surplus produksi secara merata?
Secara nasional pada tahun 2008 akan terjadi surplus produksi padi/beras. Namun, dengan kondisi iklim Indonesia dimana ada dua musim tanam (MH dan MK), maka diperkiraan pada tahun 2008 terjadi defisit beras antara produksi di bulan yang sama masih kurang. Hal ini berlangsung selama lima bulan, yaitu pada Januari, September, Oktober, Nopember, dan Desember 2008. Demikian pula antara kebutuhan di suatu wilayah dengan wilayah lain, ada yang surplus produksi dan banyak pula yang harus mendatangkan dari wilayah lain. Untuk itu sangat diperlukan stok nasional yang pada saat ini ditandatangani oleh Perum Bulog.

Apa pemicu terjadinya surplus ini?
Dalam strategi kita, ada empat, yaitu ekstentifikasi, intensifikasi, penyelamatan pasca panen, serta memperkuat kelembagaan dan pembiayaan. Ekstentifikasi, paling tidak untuk mengimbangi konversi lahan sawah. Pembuatan sawah baru terus dilakukan terutama di luar Jawa. Tahun ini kita targetkan 30 ribu ha. Soal intensifikasi, kita membagikan secara gratis benih unggul yang produktivitasnya tinggi. Di samping itu, penggunaan pupuk yang berimbang, pengairan yang mencukupi, dan teknologi budidaya yang optimal.

Semuanya ini kita kemas dalam bentuk sekolah lapang, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Tahun ini sekitar ada 1,5 juta ha melakukan sekolah lapang. Satu kelompok tani mengelola 25 ha, 1 ha laboratorium lapang. Petani dibimbing soal budidaya yang baik dan diberi benih serta pupuk gratis. Kita juga melakukan penyelamatan pasca panen, mulai menyediakan terpal untuk perontokan dan pengerikan. Bulog membantu dalam menjaga harga dan produktivitas, serta memperkuat kelembagaan dan pembiayaan.

Apa terobosan baru agar bisa surplus produksi secara merata?
Untuk surplus produksi secara merata tidaklah mungkin, mengingat masing-masing wilayah mempunyai potensi dan kendala yang berbeda. Sebagai contoh DKI Jakarta tidak mungkin memenuhi kebutuhan pangannya dari DKI, tetapi dapat memenuhi kebutuhan dari propinsi lainnya. Hal yang dilakukan adalah memanfaatkan peluang di propinsi lain untuk memenuhi kebutuhan secara nasional.

Sempat muncul gagasan untuk ekspor. Realistiskah?
Dulu kita memang ingin swasembada pangan lestari. Tapi dua tahun berturut mampu meningkatkan produksi 5% per tahun. Maka, sekarang kita berubah sasarannya, menjadi negara eksportir. Dan itu sangat mungkin. Tahun 2007, kita sudah swasembada dalam arti kebutuhan dalam negeri sepenuhnya bisa disuplai dari dalam negeri. Tahun ini, kemungkinan produksi akan meningkat lagi sekitar 4,8%. Kalau itu benar, jelas kita surplus. Harga naik sedikit tidak apa-apa. bisa jadi keuntungan bagi petani.

Dari situ timbul optimisme bahwa sebetulnya kita bisa menjadi eksportir beras. Apalagi kalau kita hitung, kita bisa menanam sampai 2-3 kali dan mampu meningkatkan produktivitas. Jadi, kalau dilihat dari potensinya, sangat mungkin kita jadi eksportir. Itu baru kita bicara soal lahan yang ada. Belum soal perluasan lahan yang sedang gencar kita lakukan, bersamaan dengan investor yang terus berdatangan. Bayangkan, Indonesia bisa jadi negara seperti apa nanti.

Anda mengatakan bahwa menggantungkan semua kebutuhan pangan dicukupi dari dalam negeri. Maksudnya?
Berapa luas sih lahan kita? Apalagi dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk dan lain-lain. Yang bisa kita cukupi adalah bahan-bahan pokok saja. Contoh yang paling ekstrem adalah mungkin enggak kita tanam gandum. Untuk sekarang sih memang tidak bisa. Tapi, di masa mendatang siapa tahu. Jadi, ini contoh ekstrem saja, bahwa tidak semua bisa ditanam dan dicukupi dari sini. Tidak mungkin itu. Kita harus memilih, kalau beras, jagung, gula, insya Allah bisa.

Belakang ini juga muncul gagasan agar kita lebih berorientasi pada maritim (maritime oriented). Apa komentar Anda?
Pemahamannya tidak seperti itu. Kami berpendapat, baik daratan maupun lautan harus dikembangkan secara bersama dan seimbang sesuai potensi di masing-masing wilayah. Kita memiliki daratan dan lautan yang luas dan harus dioptimalkan demi kesejahteraan kita bersama. Saya ingatkan, potensi kita di bidang perikanan atau lautan masih belum tergali, bahkan sering dicuri orang.

Benarkah sektor pertanian adalah bagian dari masa lalu dan tak lagi dapat diandalkan di masa mendatang?
Tidak benar itu. Selama manusia masih makan tanaman (sereal dan lainnya), maka pertanian masih merupakan sektor yang masih menjadi andalan di masa yang akan datang. Jadi, pertanian masih bisa kita optimalkan sehingga memberikan kesejahteraan bagi kita.

Lalu, apa upaya Anda untuk mengembalikan kejayaan pertanian kita?
Kita harus mengembangkan pertanian sesuai potensi dengan skala usaha yang menguntungkan, lebih efesien sehingga mampu bersaing di pasar internasional.



Selebrita

Doyan Nasi dan Sayur Asem

Julia Perez

Semula, Julia Perez sedikit bingung untuk mendefinisikan secara detail makna kecantikan ragawi. Setelah memutar otak beberapa detik, barulah selebriti yang akrab disapa Jupe ini mampu mereka-reka. "Cantik itu relatif, tetapi yang penting adalah tampil bersih dan sehat," ucap pemilik nama asli Yulia Rachmawati ini, membuka pembicaraan.

Maka dari itu, bukanlah hal yang keliru bila artis kelahiran Jakarta, 28 tahun lalu, ini biasa menerapkan gaya hidup sehat dengan membebaskan diri dari narkoba dan alkohol dalam kesehariannya. Selain itu, Jupe pun mewajibkan dirinya untuk minum air putih sebanyak satu liter setiap hari. "Pokoknya satu botol itu harus habis deh,"tambah wanita yang mulai menapaki karier sebagai model tersebut.

Agar tampil lebih segar dan wangi saat pentas, bintang iklan, presenter, dan pemain sinetron ini tak lupa mandi lulur dua kali seminggu. Bila tubuh mulai terasa pegal-pegal lantaran padatnya aktivitas, Jupe pun biasa memulihkannya dengan melakukan ritual pemijatan tradisional seminggu sekali.

Selebihnya, ia juga mewanti-wanti diri untuk tidak dekat-dekat dengan asap tembakau. Di samping membuat kulit lekas keriput, bagi Jupe merokok itu sangat merugikan tubuh dan orang-orang di sekitarnya. "Aku benci banget sama rokok," tambahnya.

Jadi, tak aneh bila pelantun lagu-lagu melayu ini kerap ngomel-ngomel kepada orang yang merokok di sampingnya. Sampai-sampai, Damien Perez, suami tercinta yang tergolong perokok berat akhirnya tak doyan merokok lagi. "Abis kalau dia merokok di dekatku sering kumarahi sih. He-he,"ungkapnya sambil tergelak.

Perihal makanan? Wah, jangan ditanya. Artis yang senantiasa tampil seksi di atas pentas ini pasti tidak lupa dalam menjaga pola makan. "Ya, sudah umur sih. Kalo berat badan enggak dijaga ya repot lah," kilah perempuan berdarah Betawi dan Sunda ini.

Seperti selebriti yang lain, Jupe pun selalu membatasi jumlah asupan karbohidrat agar tubuhnya tidak gampang melar. Kalau aktivitas sedang padat, tapi lagi malas makan, Jupe memutuskan memperbanyak makan buah-buahan. "Aku biasa makan enam sampai tujuh mangga sehari," tuturnya.

Sebagai penggemar mangga kupas, ia mengaku menyukai segala jenis mangga. Belinya pun tak harus di swalayan yang mewah. Malah seringkali Jupe kesengsem untuk mencicipi mangga-mangga ranum yang dipajang di pinggir jalan. Asupan buah-buahan yang cukup banyak ini merupakan triknya untuk mengimbangi seleranya yang minim dalam mengkonsumsi sayuran.

Walau demikian, ia tak membatasi diri dengan mengikuti diet-diet makanan tertentu. "Aduh, kasihan banget deh, kalo harus diet," keluh Jupe yang tidak suka dilarang-larang dalam menentukan makanan. Yang penting baginya adalah mengurangi asupan karbohidrat, tapi memperbanyak makanan berserat.

Prinsip ini diterapkan dengan memperketat dirinya dalam mengonsumsi nasi. Cukup dua centong nasi setiap hari. Satu centong untuk makan siang dan satu centong lagi untuk menemani aneka lauk di malam hari. Lauk dan sayurnya bisa apa saja. Pola makan seperti ini telah dilakoninya sejak usia remaja. Jenis beras, tak jadi soal buatnya. Asal bila dimasak tidak menghasilkan nasi yang keras dan pera.

Meski mengonsumsi dalam takaran yang terbatas, ia tetap tergolong selebriti yang tak bisa lepas dari nasi. Itu terbukti ketika Jupe menempuh studi di Belanda tahun 1998 dan melanglang ke negeri Prancis, tahun 2003 lalu. Ia tetap rela berburu nasi, demi memuaskan rasa laparnya.

Untunglah, hampir di setiap sudut kota di negeri Belanda maupun Prancis, tersedia restoran khas Asia. Sehingga Jupe bisa segera memuaskan perut yang keroncongan dengan pulennya bulir-bulir nasi yang mengepul, bila rasa lapar menyerang.

Selera makan Jupe pun selalu bangkit bila ia menyantap nasi ditemani steak sapi lada hitam. "Bikinan mamaku tuh yang paling mantap!" seru Jupe. Sayang, sekarang Jupe sudah berkeluarga. Jadi terpaksa ia harus puas menikmati steak hasil karya pengasuhnya.

Dan, semangatnya untuk mnyantap nasi akan semakin meletup-letup bila ia bertemu dengan nasi hangat mengepul yang disajikan bersama sambal terasi, ikan asin dan sayur asem. Apalagi kalau makannya di saung-saung dan ditemani berbagai jenis lalapan. Paduan makanan seperti inilah yang selalu ia buru bila ia sedang jalan-jalan keluar kota. "Sedap banget deh!" gumamnya. Mmm. AGS

Sajian Utama

Kongsi Memiskinkan Negeri

Mafia Perberasan

Tak terlihat, namun keberadaanya seringkali merepotkan bangsa. Kelangkaan, kerawanan, bahkan kelaparan tak hanya karena gagal panen, tapi juga efek dari tingkah polah mereka dalam mencari keuntungan bisnis pribadi. Siapa dan bagaimana cara kerja mereka?

“Gawat, Mafia Beras Mau Bikin Rakyat Kelaparan” Begitulah judul headline Harian Rakyat Merdeka, sebuah koran terbitan ibukota, beberapa waktu lalu. Berita tersebut secara panjang lebar mengupas tentang potensi kerawanan pangan yang bakal terjadi akibat ulah para mafia. “Saat ini ada upaya sistematis dari para mafia beras agar krisis pangan terjadi di Indonesia,” kata Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo, seperti dikutip harian yang sama.

Ia menilai, para mafia beras akan mengeruk keuntungan kalau terjadi krisis pangan. Sebab, bila ada krisis pangan, maka pemerintah bakal membuka pintu impor beras. Para mafia beras ini, lanjutnya, sudah memiliki jaringan dengna para cukong beras di Thailand dan Vietnam sehingga ketika keran impor beras dibuka, mereka sudah siap beraksi.

Kebijakan pemerintah yang menurunkan bea impor beras dari Rp550 per kg menjadi Rp450 per kg sejak tahun ini, lanjut Siswono, akan sangat menguntungkan mafia beras ini. “Jika peristiwa krisis pangan terjadi, maka ini akan jadi pembenaran bagi impor beras. Dengan adanya regulasi baru ini, maka klop-lah sudah,” katanya, menambahkan.

Soal keberadaan mafia beras ini secara implisit juga sempat disinggung oleh Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono. Mentan melontarkan pertanyaan menarik seputar kenaikan harga beras yang sempat terjadi. Katanya, beras sebenarnya ada. Tetapi di tangan siapa? Oleh mereka, lanjutnya, beras dikeluarkan sedikit demi sedikit sehingga harganya naik.

Pernyataan Mentan menunjukkan bahwa ada beberapa pihak yang memang mampu mengontrol harga. Menurut Anton, harga tidak murni berlaku sebagai hukum pasar, karena ada kekuatan yang mampu menguasai stok dalam jumlah besar. Artinya, permainan dari kelompok tertentu yang ingin mempermainkan harga beras ini sebetulnya sudah menjadi rahasia umum. Mereka adalah para mafia yang memang memahami seluk-beluk perberasan. Diyakini, upaya ini bukan permainan pedagang kecil yang biasa menjual beras dalam skala kecil.

Meski sangat sulit membuktikannya, keberadaan mafia beras ini sudah lama menjadi kecurigaan banyak kalangan, dan diduga melibatkan para pejabat dan orang-orang partai. Mereka menyimpan beras dalam skala besar, dan mengeluarkannya sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek. Stok beras yang pas-pasan ini tentu saja mendorong naiknya harga beras.

Kenyataan naiknya harga makanan pokok inipun terbukti. Operasi pasar yang digelar pemerintah dengan beratus ribu ton beras seringkali tak kunjung mampu menurunkan harga. Bahkan, di sejumlah daerah harga beras justru semakin meningkat drastis jauh dari jangkauan daya beli masyarakat.

DARI IMPOR: Sejatinya, semua presiden sampai di era reformasi ini mengimpor beras. Soeharto, Habibie, Gus Dur, Mega, hingga SBY, juga mengimpor beras. Jumlahnya saja yang berbeda, berikut komitmen politiknya. Mentan Anton Apriyantono punya kepentingan agar petani tidak terus-menerus rugi. “Selama ini petani selalu berkorban,” katanya.

Keputusan politik pemerintah untuk mengimpor beras sejatinya merupakan keputusan yang sering menjadi kontroversial di kalangan masyarakat, terutama petani. Petani menjadi entitas yang mendapatkan dampak langsung dari kebijakan politik tersebut. Walaupun kapasitas impor beras terus mengalami penurunan, namun isu impor ini selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan elit politik dan pebisnis perberasan.

Permasalahan impor memang masalah ketidakberdayaan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Apalagi indonesia merupakan negara yang subur akan sumberdaya pertanian. Semakin jelas bahwa Indonesia sangat tidak berdaya dalam permasalahan beras.

Gonjang-ganjing soal impor beras tampaknya belum akan berakhir. Berbagai pendapat masih bermunculan, menanggapi kebijakan impor ini. Anggota Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, kebijakan impor beras merupakan bukti kemenangan mafia beras dan kegagalan Perum Bulog dalam menyerap beras petani. Selama ini, Bulog tidak serius membeli beras petani. Karena itu, beberapa waktu lalu, Komisi VI DPR akan mengajukan hak angket kepada pemerintah terkait dengan masalah tersebut.

“Impor 110 ribu ton beras ini hanya akal-akalan Bulog yang bekerja sama dengan mafia beras untuk mengeruk keuntungan dan memiskinkan petani,'' tandas Bima sebagaimana dikutip Suara Merdeka. Ia menambahkan, impor resmi biasanya diikuti dengan impor gelap yang bisa mencapai lima kali lipat. Setiap kebijakan impor pasti ada penumpang gelapnya, yaitu oknum yang memasukkan barang (beras) secara ilegal. Penumpang gelap ini yang harus diwaspadai. Sebab, dialah yang merusak harga beras di pasaran.

Aria Bima mengatakan, kebijakan impor beras juga merupakan bukti konkret ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib petani. Petani akan semakin miskin dan tidak pernah sejahtera jika kebijakan yang diambil seperti ini,'' ujarnya. Sebenarnya, jika Bulog serius melakukan operasi, banyak wilayah di Indonesia yang surplus beras.

Karena itu, ia bersama Ketua Komisi VI DPR Didik J. Rachbini beberapa waktu lalu sepakat berjuang memakai hak angket terhadap pemerintah, berkaitan dengan keputusan mengimpor 110 ribu ton beras. DPR sebelumnya sudah membuat keputusan menolak impor beras dalam rapat dengan Menteri Perdagangan dan Dewan Ketahanan Pangan (DKP).

Selama ini, menurut penilaian Aria Bima, DPR tidak mempercayai ada sesuatu yang kritis soal beras. Komoditas itu hanya dijadikan ajang spekulasi dan hasilnya masuk ke kantong-kantong pribadi dan kelompok. “Jadi DPR 100% tidak percaya praktik-praktik impor. Sebab, pada waktu lalu dilakukan dengan cara-cara seperti itu,” katanya.

Karena itu, sewaktu pemerintah memutuskan untuk impor, DPR melalui Komisi Perdagangan langsung melayangkan Hak Angket. Dengan hak itu, DPR bisa membongkar dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kebijakan beras di tanah air, berarti membongkar mafia beras.

"Kami tidak percaya ada krisis beras, sehingga harus mengimpor," ujar Ketua Komisi Perdagangan DPR Didik J. Rachbini sebagaimana dikutip Koran Tempo. Buktinya, kata dia, sampai kini tak ada kekurangan beras di masyarakat.

KEMENANGAN MAFIA: Sekretaris Fraksi PKS Zulkieflimansyah menegaskan, jika memang Presiden mau memberantas korupsi, inilah saatnya memberantas mafia beras di Bulog yang telah merugikan petani puluhan tahun. “Untuk itu, Presiden harus melihat sisi positif penggunaan Hak Angket itu,” katanya seperti dikutip Sinar Harapan.

Sayangnya, DPR ternyata gagal menggunakan hak angket untuk mempertanyakan atau menyelidiki motif di balik kebijakan impor tersebut. Gagalnya angket ini disinyalir juga merupakan bukti kemenangan para cukong beras. Sebab, dengan Angket, ada harapan misteri di balik kebijakan ini bisa dibuka ke publik.

Namun, semua fraksi di DPR sepakat bahwa kondisi perberasan nasional carut-marut. "Kami juga melihat begitu," kata Endin AJ Soefihara, dari F-PPP, sebagaimana dikutip Bali Post. Karena itu, lanjutnya, misteri ini harus diungkap tuntas. Sebab, komitmen pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya pasti berseberangan dengan keinginan para cukong beras. Para tengkulak ini bekerja sama dengan pejabat di pemerintahan untuk memuluskan rencananya.

Tamsil Linrung, anggota DPR dari Fraksi PKS memiliki data mengenai gerilya cukong beras ini. Mulai penimbunan beras hingga impor ilegal. Misalnya, pemerintah menetapkan impor beras 110 ribu ton. Nanti akan ada kapal lain yang membawa beras bersama kapal-kapal resmi. Ini cerita lama yang bertahun-tahun terjadi. Keuntungan cukong ini hingga ratusan miliar.

Belum lagi keuntungan dari disparitas harga beras. Setiap tonnya bisa mencapai US$2-3. Coba dikalikan 110 ribu ton, 250 ribu ton, dan seterusnya, lalu berapa keuntungannya. Uang haram itu tidak dimakan cukong sendiri. Uang mafia beras itu dibagi rata. “Pejabat pemerintah juga terlibat,” kata Tamsil, seperti dilansir Bali Post, sembari menyimpan datanya rapat-rapat.

30 TAHUN: Ingin tahu siapa dan sejak kapan para cukong beras ini? Menurut anggota DPR Didik J Rachbini, jaringan mafia itu sudah lama menguasai impor beras di Indonesia sejak 30 tahun silam. “Impor beras itu hanya akal-akalan jaringan mafia beras yang sudah 30 tahun menguasai Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip Koran Tempo.

Selama ini, setidaknya terdapat enam pengusaha atau pedagang beras yang telah melakukan kartel selama berpuluh-puluh tahun. Bak mafia, enam pedagang beras dalam negeri ini seringkali mempermainkan stok sekaligus harga beras di pasaran. “Mereka bukan semata-mata melakukan kartel, tapi ketika masa panen tiba, mereka melakukan oligopoli karena petani tidak mempunyai kekuatan mengorganisasi,” kata Anggota Komisi VI DPR dari PDIP Hasto Kristanto, sebagaimana dikutip detikcom.Keenam pedagang yang berbentuk perusahaan ini melakukan kartel di dua sisi, yaitu pembelian beras petani, serta penyediaan pupuk dan pestisida. Operasional pedagang ini, ungkap Hasto, sudah dilakukan sejak era Presiden Soeharto. Pedagang itu dilindungi, karena pada waktu itu pemerintah takut ada gejolak petani melakukan land reform sehingga harga dikontrol.Namun, data-data yang dimiliki mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur soal konspirasi berikut jumlah mafia yang terlibat sungguh mencengangkan. Dia menyebutkan, setidaknya 22 cukong berkeliaran, mempermainkan isi perut 220 juta rakyat. “Tugas pemerintah mencari dan menangkap mereka,” katanya, seperti dikutip Bali Post.

Desakan agar aparat penegak hukum segera membongkar dan menangkap pihak-pihak yang melakukan penyelundupan, penimbunan, dan berbagai tindakan melawan hukum lainnya terkait pangan maupun perberasan pantas menggema di berbagai pelosok negeri. Sebab, hilangnya beras di pasaran sehingga melambungkan harga, tidak terelakkan lagi, merupakan permainan pihak-pihak tertentu yang ingin mereguk keuntungan di balik kesengsaraan rakyat.

Lain daripada itu, permainan ini juga disinyalir merupakan ulah cukong yang ingin melegitimasi impor beras. Untuk itu, Wakil Ketua MPR, AM Fatwa, turut menyuarakan aspirasinya dan mendesak pemerintah membatalkan impor beras. Dia mendukung kebijakan sejumlah gubernur yang melakukan penolakan terhadap rencana pusat tersebut. Apa pun alasan yang dikemukakan pemerintah, opini masyarakat sudah tidak percaya, karena pengalaman masa lalu dalam permainan impor beras. Upaya itu justru menyuburkan tengkulak dan mafia beras,” katanya seperti dikutip Suara Merdeka.

Suara penolakan impor maupun penegakan hukum dari tokoh-tokoh di daerah memang tidak mengada-ada. Berbagai daerah menyatakan bahwa munculnya kebijakan impor beras lebih merupakan kolaborasi kepentingan antara pengusaha dan pemerintah. Mereka yakin, impor dan berbagai skandal yang melibatkan kekuasaan dan para cukong beras tidak hanya merugikan, tapi menyengsarakan petani dan rakyat Indonesia. QYH (Dari berbagai sumber)


Boks 1
Patgulipat Cukong Beras

Sejatinya, maraknya aksi para tengkulak beras di negeri ini karena dipicu oleh ambisi untuk mengeruk keuntungan gila-gilaan. Maka, berbagai trik, tipu muslihat, dan skandal pun dilakukan. Mulai dari penimbunan, penyelundupan, hingga permainan harga.

Bukan rahasia lagi, para cukong banyak diuntungkan oleh kebijakan impor beras. Soal impor, aparat Bea dan Cukai di negeri ini pun tak pernah kekurangan tantangan. Setelah gula ilegal dan daging ilegal, kini muncul beras ilegal. Dalam satu kasus, sekitar 60 ribu ton beras yang diselundupkan dari Vietnam—diduga juga melibatkan pelaku dari kalangan atas pernah terungkap. banyak fakta yang mengungkapkan terjadinya penyelundupan dengan modus separuh nyolong (spanyol)—istilah yang sangat populer di kalangan pedagang dan kuli angkut yang biasa menangani urusan ekspor-impor. Mereka melakukan manipulasi terhadap daftar pemberitahuan impor barang (PIB). Contohnya, pada awalnya, dokumen ini hanya mencatat enam kapal yang semestinya bermuatan 46.500 ton. Namun, yang dilaporkan ke otoritas pelabuhan hanya 26.925 ton. Ini berarti terdapat 19.575 ton yang tidak dilaporkan dalam manifes. Tak hanya itu, semua beras itu bisa langsung raib entah kemana.
HKTI pernah mencatat bahwa hingga akhir tahun 2004 beras impor ilegal bisa mencapai 2 juta ton. Beras haram ini datang dari berbagai negara seperti Thailand, Australia, Amerika Serikat, Vietnam, Pakistan, dan India. Umumnya bera impor ilegal itu masuk melalui pelabuhan besar di Medan, Tanjung Balai (Karimun), Jakarta, dan Surabaya.
Data lain yang dirilis Majalah Trust menyebutkan bahwa selama periode Mei-Juli 2004 tercatat 29 pemberangkatan kapal membawa beras dari pelabuhan Bangkok, Thailand, dengan tujuan Indonesia. Total beras yang diangkut mencapai sekitar 98.600 ton. Di antara ”armada hitam” ini tercatat tiga kapal yang memakai nama-nama Indonesia, seperti Sinar Borneo, Intan-31, dan Caraka Jaya Niaga III.
Modus penyelundupan dengan menggunakan over volume, ternyata telah terjadi sejak perniagaan beras masih dimonopoli Bulog tempo lalu. Di dalam dokumen impornya hanya disebutkan 5.000 ton. Padahal, jumlah sebenarnya 10 ribu ton. Sisanya yang tak tercatat dipastikan akan terbebas dari bea masuk.
Biasanya, ada dua cara yang biasa dipakai para penyelundup. Kapal pembawa beras masuk ke pelabuhan-pelabuhan kecil di Indonesia yang pemeriksaan kepabeanannya tidak ketat. Cara lainnya, kapal membongkar muatan di pelabuhan negeri jiran yang erdekatan dengan Indonesia. Dari sana beras diangkut kapal kecil ke pelabuhan-pelabuhan rakyat di Indonesia. Beberapa pelabuhan yang dicurigai menjadi pintu masuk beras selundupan adalah Tanjung Balai (Sumatra Utara), Dumai (Riau), dan Kuala Tungkal (Jambi). Biar aman, sebelum diedarkan ke pasar, beras ilegal itu dioplos dulu dengan beras lokal dan dikemas dalam karung berlabel produksi dalam negeri.
Oknum-oknum tersebut tidak bekerja dalam kelompok kecil, tetapi bekerja dalam suatu jaringan yang terpadu (integrated) dengan berbagai unsur yang terkait. Sebab, mustahil beras ratusan ribu ton bisa diselundupkan ke wilayah pabean Indonesia tanpa ketahuan petugas Bea Cukai. Selain merasa diuntungkan dengan manipulasi impor, menurut beberapa sumber, para tengkulak juga mendapatkan laba dari disparitas maupun permainan harga yang mereka lakukan. Nah! QYH (Dari berbagai sumber)

Boks 2
Cara Ampuh Melibas Mafia

Langkah yang diambil Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memang pantas ditiru. Guna memberantas tengkulak perberasan, pemerintah setempat mencetuskan gagasan untuk membangun pusat pengolahan dan pemasaran padi atau rice center pada tahun 2005 lalu.

“Salah satu tujuan kami mendirikan rice center juga untuk memberantas mafia beras Cipinang. Indramayu kini juga sering kali mendapat permintaan beras dari Batam dan Kepulauan Riau," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu Kusnomo Tamkani di Indramayu, beberapa waktu lalu, seperti dikutip Kompas.

Selama ini, lanjut Kusnomo, para pedagang beras dari Indramayu seringkali dipermainkan oleh pedagang beras Cipinang di Jakarta, sehingga harga beras jatuh, dengan imbas menurunnya pembayaran kepada petani. Oleh karena itu, pihaknya tergerak untuk meningkatkan daya tawar pedagang beras dan petani Indramayu dengan pendirian rice center ini.

Dengan keberadaan rice center, Kusnomo mengatakan, nantinya produk pertanian, terutama padi asal Indramayu, akan masuk ke rice center terlebih dahulu. Bahkan dia memperkirakan beberapa kabupaten di Wilayah III Cirebon, seperti Majalengka, Kuningan, Cirebon, dan Subang juga dapat memanfaatkan pusat pemasaran itu.

Selama ini produksi padi dari wilayah Pantura, Jawa Barat dikuasai para tengkulak. Para petani di daerah tersebut sudah sangat tergantung pada para pengijon sehingga harga jual gabah ditentukan oleh pembeli. Dengan adanya rice center ini, banyak pihak berharap terjadi penyederhanaan mata rantai perdagangan padi sehingga terjadi optimalisasi harga pembelian gabah di tingkat petani.

Terobosan yang dilakukan daerah, seperti Indramayu, hanyalah contoh kecil yang dapat dilakukan guna memberantas para cukong beras. Namun, yang lebih esensi dan mendasar adalah perlunya pemerintah memiliki database di bidang perberasan. Meski sebagai penghasil dan konsumen beras terbesar di dunia, ternyata Indonesia belum punya database perberasan. Padahal dengan database perberasan, pemerintah bisa mengendalikan perdagangan dan distribusi komoditas ini hingga harga gabah stabil.

Dengan database ini, volume stok beras nasional dan siapa yang menguasainya juga akan ketahuan. Data ini mestinya dimiliki Departemen Pertanian dan Perdagangan. Dan, jika terjadi juga defisit neraca beras, Bulog seharusnya melakukan pembelian beras dari petani dalam negeri, bukan menyubsidi petani di Vietnam atau Thailand.

Soal impor beras, Ketua Umum HKTI Prabowo Subianto mengkhawatirkan ada pembonceng dalam impor beras. Karena itu, ia mengusulkan agar impor dilakukan dengan prosedur government to government (G to G). “Jadi, tidak melalui importir atau broker lagi,” kata Prabowo, seperti dikutip Kontan.

Memang, secara umum harus diakui, bahan pangan pokok rakyat Indonesia adalah beras. Seharusnya, pemerintah yang baik tentu melihat contoh di negara yang bagus penataan bahan pangannya. Hampir semua negara yang kokoh dan stabil di bidang pangan, tidak hanya mengandalkan bahan pangan pokok pada satu jenis. Rata-rata membagi kebutuhan pangan mereka dalam bentuk gandum, jagung, beras, ubi, dan kentang.

Sebagai negara agraris di mana begitu banyak sumber karbohidrat yang bisa tumbuh dengan baik, cukup naïf kalau hanya mengandalkan pada produksi beras yang terbukti selalu menuai masalah baik dalam ketersediaan, kesejahteraan petani, maupun distribusinya. Karena itu, diversifikasi pangan sudah selayaknya menjadi perhatian utama pemerintah. QYH (Dari berbagai sumber)

Resto

Ingin tahu rasanya bersantai sekaligus bersantap di tengah-tengah pematang sawah? Restoran ini menawarkannya untuk Anda. Sajian menu maupun panorama yang ditawarkan begitu khas dan menggoda.

Ya, makan di tengah-tengah pematang sawah, terdengar agak janggal pastinya. Tapi, jangan salah, suasana makan seperti ini bisa Anda temui dan rasakan sendiri lho. Konsep yang dibuat memang sengaja dikemas sealami mungkin. Pengunjung restoran disuguhi berbagai hal yang menarik, seperti suasana alamnya, konsep bangunannya, dan pastinya menu makanan yang menjadi andalan rumah makan ini.

Di Restoran Taman Pringsewu yang terletak di Jalan Raya Magelang KM. 9 Mulungan, Sleman, Yogyakarta, ini Anda dapat menikmati berbagai hidangan yang menggoda selera, salah satunya sop buntut. Panasnya sop buntut membuat badan menjadi segar, apalagi semilir angin yang datang dari pematang sawah membuat pengunjung tak sekadar bersantap, tapi juga dapat menikmati alam nan alami.

Konsep bangunannya juga dibuat sealami mungkin seperti lesehan, gazebo yang dibuat dari bahan kayu dan bambu. “Konsep ini memang dikemas sealami mungkin. Kami ingin pengunjung merasa termanjakan dengan pelayanan yang kami tawarkan,” ujar Laras, Marketing Restoran Taman Pringsewu.

Pringsewu memang layak disebut Taste to Believe, artinya mereka memang mengutamakan cita rasa dan mutu hidangan. Diakui Laras, lidah dan mata sangat berkaitan dengan hati. Artinya, jika lidah merasakan kenikmatan, begitu pula dengan mata. Maka, hati pun tidak merasa dibohongi dan bisa berkata jujur. “Enggak percaya? Buktiin aja!,” katanya, menyakinkan.

Khusus sop buntut, misalnya, disiapkan secara spesial. Bahan baku yang digunakan pun benar-benar pilihan, seperti buntut sapi berkualitas dipadu dengan rempah-rempah spesial. Semua bahan langsung diracik koki handal Pringsewu dan dilengkapi dengan wortel, kentang, dan tomat. Sop buntut ini disajikan dalam keadaan panas.

Selain menu spesial sop buntut, Pringsewu juga punya banyak pilihan menu lainnya, antara lain hidangan gurame bakar, ayam bakar, cah kangkung, ayam kuluke, ayam goreng saus mentega, gurame asam manis, hingga gurame goreng. Ada pula nasi ayam manis, nasi ayam nanking, nasi fu yung hai, sapo sea food, cumi goreng tepung, dan cumi goreng saus mentega.

Untuk minuman, Pringsewu juga memiliki menu andalan, yaitu es kopyor, es duren, dan floating ice. Segarnya es yang ditawarkan sebagai menu favorit pastinya bisa menjadi pilihan buat pengunjung. Ada juga sajian teh poci panas yang makin menambah kenikmatan tersendiri. “Kami selalu membuat inovasi menu. Cara ini sebagai upaya kreasi cita rasa yang kami tawarkan buat pengunjung, sehingga mereka tidak akan merasa bosan dengan menu yang ada,” tandas Laras.

Sedangkan konsep yang ditawarkan, Laras mengaku, sengaja membuat konsep cozy modern. Ya, restoran taman Pringsewu ini tidak hanya dimanfaatkan buat rumah makan saja, tetapi bisa juga dipakai untuk berbagai acara seperti garden party atau meeting. “Untuk acara-acara besar kami menyediakan tempat dan fasilitas yang mendukung seperti ruangan pertemuan berpendingin udara, Hall, Gazebo, Play Ground, dan parkir yang luas. Klien tidak akan dirugikan dengan penawaran kami,” katanya sembari tertawa.

Salah satu gebrakan yang ditawarkan restoran yang sudah memiliki cabang di delapan kota di Jawa Tengah, ini adalah konsep Kampung Jawa yang hadir setiap hari Jumat. Ya, Kampung Jawa ini menawarkan berbagai macam menu-menu tradisional seperti sayur lodeh, wader, balado terong, welut penyet, bacem, dan sebagainya. Style-nya dibuat bernuansa djawi banget. Tidak hanya itu, pelayannya juga memakai baju bernuansa Jawa seperti kebaya dan baju lurik.

”Ini salah satu bentuk deferensi sama restoran lain. Bahkan cara penyajiannya juga beda, kita segaja memanfaatkan wadah dari tanah liat, seperti piring, gelas, dan mangkuknya. Pokoknya ndjawi abis deh,” tutur Laras. Soal harga, Laras mengaku sangat kompetitif, mudah dan pas di kantong.

Nah, buat Anda pencinta kuliner, pastinya tempat ini bisa menjadi pilihan alternatif Anda dan keluarga. Menyantap makanan di tengah-tengah pematang sawah dengan cita rasa yang berkualitas pastinya. Lengkap dengan panorama resto yang alami dan siap menyapa Anda. PIT

Resonansi

AGRARIS ATAU MARITIM?
Oleh: M. Nur Gaybita

Apakah nenek moyang kita seorang pelaut ataukah petani?

Dalam sebuah acara yang berlangsung di Departemen Pertanian, beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono memaparkan oleh-olehnya sekembali dari kunjungannya ke Brasil. Mentan lalu membandingkan profil lahan pertanian kita yang seluas 21 juta hektar ternyata hanya seukuran luas lahan pertanian kedelai di Brasil. “Luas sawah Indonesia sama dengan luas lahan tebu di Brasil, sementara luas ladang penggembalaan sapi di Brasil (220 juta hektar) lebih luas dari seluruh daratan di Indonesia (190 juta hektar),” demikian kata Mentan.

Yang agak terenyuh dari ucapan Mentan adalah pernyatannya menyangkut potensi pertanian kita dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. “Dengan kondisi lahan yang ada, realistiskah Indonesia harus memenuhi semua kebutuhan kita dari produksi pertanian di dalam negeri? Mengapa kita juga tidak membebankan hal ini pada sektor kelautan yang memang lebih luas dari daratan kita?”.

Sebuah pernyataan yang memang benar adanya. Benar bahwa lautan kita lebih luas dari daratan, tapi sektor agraris itulah yang menjadi pekerjaan utama bangsa ini sekaligus tanggung jawab Deptan.

Sebagai tanggung jawab dan pekerjaan utama, Deptan harus memprioritaskan pertanian ini sebagai sektor unggulan. Kita pun tetap harus mengelola pertanian kita dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Tidak lagi dikelola sekadar business as usual. Revitalisasi pertanian dalam arti luas dan menyeluruh harus berjalan dan dijalankan. Harus ada terobosan dan inovasi baru dalam rangka membangun pertanian menjadi lebih produktif.

Jadi, mari kita sejahterakan penduduk kita melalui sektor ini. Dan, ini mungkin saja terjadi. Siapa yang tak mengagumi kekayaan alam kita yang melimpah ruah dan membentang di seluruh penjuru nusantara? Siapa yang tidak mengakui hamparan kekayaan lautan dan daratan yang kita miliki? Jadi, sudah waktunya kita juga membangun sinergi antara pertanian, kelautan, dan perkebunan dalam memajukan bangsa ini. Kita buktikan kalau kita juga bisa berjaya melalui tiga sektor ini.

Tiga potensi ini harus kita gali dan gunakan secara maksimal. Di bidang kelautan, siapa yang bisa menduga apa potensi laut kita? Di dalam laut masih banyak kekayaan yang masih terbengkalai dan belum digarap secara serius. Siapa sih yang memperhatikan nelayan kita selama ini? Siapa yang peduli apakah mereka bisa melaut atau tidak?

Begitu pula dengan hutan kita. Hutan tropis kita adalah modal yang memiliki manfaat nyata bagi kehidupan bangsa Indonesia, baik manfaat ekologi, sosial budaya, maupun ekonomi. Kita dapat mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.

Jadi, apakah kita lebih pantas disebut negara agraris atau maritim? Pertanyaan ini kita tidak signifikan lagi untuk dijawab. Apalagi, kita memiliki dua-duanya. Daratan kita masih menyimpan kekayaan yang mampu menyejahterakan rakyat. Kedalaman lautan kita masih menyimpan potensi yang membanggakan.

Sayangnya, hingga kini pertanian kita tetap tak memberikan dampak secara signifikan terhadap kesejahteraan para petani. Potensi laut kita belum pernah diurus secara serius. Begitu pula dengan sumber daya alam lain, khususnya hutan kita yang selalu menjadi rebutan para pembalak liar. Hutan dibabat, pertanian tidak terkontrol, lahan semakin sempit, di laut pun nelayan kita tak berdaya, bahkan sering dikebiri nelayan asing. Bila hal ini terus-menerus terjadi, hancur sudah!

Profil

Prioritas Kualitas Gabah

Jumawal Uhady

Bekerja lebih baik hari ini bisa menghasilkan perbaikan untuk esok hari. Itulah prinsip hidup lelaki berdarah Aceh ini dalam mengayomi bisnis pengilingan padi yang dimiliki ayah mertuanya. Apa kiat suksesnya?

Sekilas mungkin terlihat janggal kalau melihat back ground karier yang dimiliki Jumawah Uhady. Ya, sebelum terjun di kancah perberasan, Awal sempat bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di Aceh. Siapa sangka, dari seorang kontraktor kini ia menjadi juragan beras. Petuah sang mertualah yang membuat dia lebih semangat untuk mengelola bisnis keluarga yang sudah dirintis sang mertua sejak tahun 1993 di bawah bendera PT Mitra Meugah Bestari.

Bisnis yang dibangun ini berawal dari keinginan sang mertua, Ibrahim Hasan, untuk concern ke sektor pangan. Apalagi, beras merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kelangsungan hidup manusia. Alasan inilah yang menjadi pemikiran untuk merintis usaha penggilingan beras di kota Banda Aceh. Tapi sayang, kondisi Aceh untuk sektor pertanian amat kurang mendukung, bahkan perusahaan ini nyaris gulung tikar.

Banyak hal yang membuat usaha penggiliangan padi yang dirintisnya ini sedikit melempem, alasannya bahan baku berupa beras sebagai penyedia bahan baku beras yang diperoleh sangat minim. Dan sumber daya manusianya juga relatif terbatas. “Alamnya kurang cocok buat bisnis ini, agak sepi saja. Makanya kita pindahin ke Subang,” tandas pria yang biasa dipanggil Awal ini.

Ya, sekitar tahun 1996, bisnis ini pindah lahan ke daerah Subang, Jawa Barat. Pria kelahiran Banda Aceh, 21 Juli 1970 ini mengaku banyak hal yang dipertimbangkan sebelum memilih Subang sebagai lahan bisnisnya. “Kita meliht prospek di Subang sangat bagus, beda dengan Aceh yang terbatas lahan produksi berasnya,” pungkas pria yang doyan lagu-lagu bernuansa pop ini antusias.

Lebih dari itu, Subang memang dikenal sebagai salah satu sentra beras yang ada di daerah pantura. Dengan seperangkat mesin penggiling beras yang dia miliki dari Aceh, tahun 1999, Awal mulai mengembangakan bisnisnya. Berbekal ilmu yang dia miliki, Awal mulai menunjukkan sepak terbang sebagai seorang pengusaha yang profesional.

Untuk melengkapi peralatan penggilingan padi, yaitu alat untuk menaikkan gabah pada unit proses yaitu unit elevator (alat untuk memindahkan gabah), cleaner (alat pembersih gabah), dan dryer (alat untuk mengeringkan gabah) ia pun mulai memutar otak dengan menginovasi mesin-mesin yang ada. Biar tidak ketinggalan zaman, mesin-mesin itu pun ditata ulang. Hasilnya, produksi gabah yang dihasilkan pun memiliki standar kualitas yang bisa diandalkan.

Mulanya, menggeluti bisnis perberasan ini bukanlah suatu hal mudah untuk seorang Awal. Bagaimana tidak, dia harus mencoba menjalani tanggung jawab yang besar, bukan saja sebagai seorang menantu tapi juga sebagai seorang pebisnis handal. Kendala lain, ketidakstabilan harga beras dan gabah di pasaran yang kadang tidak menentu, membuatnya mesti pintar-pintar mutar otak.

Buat Awal, kualitas adalah hal terpenting dalam bisnisnya. “Ini produk yang kami tawarkan, makanya kami harus punya mutu biar harga jual yang ditawarkan juga tinggi,” pungkasnya. Ia mengakui kualitas gabah pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap mutu beras giling yang dia produksi, sehingga hasilnya bisa memberikan nilai tambah (added value) bagi usaha yang dilakoninya.

Dalam sehari, mesin penggilingan yang dimiliki Awal bisa memproduksi sekitar 3-6 ton per jam. Kalau produksi full time bisa mencapai 60 ton per hari. Dengan luas lahan sekitar 3,5 ha, usaha penggilingan padi yang dimilikinya mampu memproduski sekitar 900 ton /bulannya. “Saat ini kita memberlakukan 1 shift saja. Sebab, cost yang dihasilkan juga besar. Makanya kita perlu bikin perencanaan seefisien mungkin,” papar pria yang hobi olah raga dan mengurus tanaman hias ini.

Tidak hanya itu, Awal juga mengaku memproduksi beras dengan brand sendiri sesuai dengan kelas konsumennya. Untuk kelas 1 brand yang diproduksi di antaranya merek Maharani (beras pandan wangi ekstra), Burung Cempala (beras ramos Cianjur SLYP). Untuk kelas middle yaitu Gajah Putih (sentra ramos super) dan Mundu Sari (beras long grain extra) untuk kelas 3.

“Brand ini memang kita buat sesuai dengan segmen pasar dan konsumennya. Jadi konsumen bisa menentukan beras mana yang mereka suka, tergantung pilihan dan selera pastinya. Dan kita tidak cuma jual kecap aja kok, kualitas beras kita bisa diandalkan karena mutu gabah tetap jadi perioritas,” ujarnya setengah promosi. Untuk itu, upaya yang dilakukan pria bertubuh kekar ini agar konsumen merasa puas dengan produknya dan tidak merasa dibohongi adalah terus meningkatkan mutu produk yang dihasilkan.

Dan, hal lain yang selalu menjadi acuan adalah tetap menjaga kemitraan dengan petani. Langkah ini sangat penting terlebih petani diposisikan sebagai mitra penghasil beras. Tanpa petani tidak akan mungin usaha penggilingan ini berjalan. Makanya, realitionship mesti dibina secara regular.

Kepercayaan petani terhadap penggilingan, bagi Awal, adalah modal utama yang mesti dijaga. ‘Itu kunci sukses tidaknya sebuah perusahaan penggilingan. Kita juga sering membuat event kerja sama dalam bentuk pembinaan,” ucapnya. Hasilnya pun dapat ditebak. Produksi beras Awal sudah berhasil menembus pangsa pasar yang lebih luas dan besar. PIT

Opini

Dipertanyakan Stabilitas Ketahanan Pangan di Indonesia?

Oleh. Ilham Prisgunanto*

Ketahanan pangan seharusnya sejiwa dengan tujuan pembangunan pangan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata. Hal ini dinyatakan dalam Undang Undang Pangan (UU Nomor 7 tahu 1996, pasal 2). Hasil akhir yang ingin dicapai dari kualitas pangan yang bermutu adalah penciptaan SDM Indonesia yang unggul dan seutuhnya. Artinya, tercipta SDM handal yang mempu bersaing dalam taraf internasional.

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan kasus beredarnya makanan impor yang mengandung bahan pengawet berbahaya, seperti boraks, formalin, dan rodhamin. Terus terang kondisi ini menunjukkan kerentanan pada ketahanan pangan nasional. Ketersediaan sumber pangan berkualitas secara tidak langsung akan menunjukkan gengsi taraf kemakmuran suatu negara.

Apalagi ditambah dengan merebaknya isu-isu penyakit, seperti flu burung, penyakit diare, hingga demam berdarah yang kerap dikaitkan dengan masalah pangan. Kasus-kasus ini mengindikasikan melorotnya kualitas pangan negara. Seperti layaknya sebuah dramatisasi, pasti ada sosok yang dijadikan ‘kambing hitam’ dalam kasus ini. Posisi ini dibebankan kepada pedagang kecil dan usaha kecil rumahan. Sedangkan pemerintah adalah pihak ’bersih’ yang kedudukannya sebagai mekanisme kontrol peredaran makanan. Di sisi lain, tetap saja rakyat adalah konsumen dan pihak yang dirugikan.

Posisi negara berada pada ruang abu-abu (sumir) yang turut dirugikan, seperti layaknya rakyat. Padahal jelas, seharusnya negara berperan sebagai pengontrol sanitasi, peredaran, penyimpanan, sampai pengakutan system pangan. Dalam artian bahwa pemenuhan persyaratan keamanan, mutu dan gizi dikaitkan dengan kesehatan, perdagangan pangan yang jujur, bertanggungjawab dan pengaturan pada kecukupan pangan nasional.

Pada kenyataannya memang tidak ada jaminan keamanan dan sanitasi layak terhadap pangan yang beredar bagi rakyat saat ini. Dramatisasi yang dibuat oleh pers kemarin dalam meredam isu-isu soal pangan dengan mencuatnya soal penengakkan hukum. Kenyataannya isu tersebut langsung bungkam seribu bahasa tanpa ada penyelesaiannya.

Ya, isu tandingan yang dibenturkan dalam permasalahan adalah menyoal rugi dan matinya sektor perdagangan dan usaha kecil rakyat, yang notabene berpengaruh sangat signifikan dengan perekonomian negara. Apa jadinya bila rakyat sudah tidak mau makan tahu, mie, bakso, ayam (unggas), sapi, kambing, dan ikan, bila semua dianggap berbahaya? Apalagi bila orientasi rakyat sebagai konsumen beralih ke produksi pangan luar negeri dan kategori impor.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa sosialisasi pangan halal bukanlah sesuatu yang mudah dalam penerapannya, karena terkait dengan adanya kepentingan bisnis usaha dan tingkat birokrasi pelaksaannya yang ‘luar biasa’ sulit dan lama. Jelas pihak pengusaha makanan tidak mau dirugikan dengan membayat sertifikasi halal, sehingga membebankan konsumen. Pertanyaanya adalah bagaimana rakyat sebagai konsumen dapat menilai?

Tarik ulur dan lempar tanggung jawab menyoal masalah ini tidak terpecahkan dari dahulu, antara Depag, MUI, dan BPOM. Sayangnya, penerapan sertifikasi halal hanya untuk kepentingan ‘proyek’, bukan kepentingan rakyat. Tidak heran bila saat ini ada sertifikasi halal dari berbagai versi, menurut ketiga institusi negara yang tidak pernah kompak untuk kasus satu ini. Dan pastinya pengusaha makanan yang dibikin ‘bingung’. Padahal, kesadaran mereka akan sertifikasi halal diakui ada dan cukup tinggi, apalagi adaya desakan aturan internasional Codex Alimentarius Commission (CAG/GL 24-1997) tentang tata aturan halal internasional terhadap negara pengimpor.

Kemudahan proses sertifikasi halal di luar negeri dan ketidakjelasan penanganan menyebabkan aset negara dari sisi sertifikasi halal hilang. Maka, jangan heran bila kontrol terhadap pangan saat ini begitu rentan di Indonesia. Timbul pertanyaan di benak kita, apakah masalah pangan di Indonesia sudah bisa teratasi secara keseluruhan? Bagaimana dengan nasib rakyat yang selalu menjadi korban?

* Penulis adalah Anggota Penyunting Buku Pedoman Strategi Sosial Produk Halal (Departemen Agama), Peneliti Lepas Puska Kom-FISIP UI, dan sedang melanjutkan studi Doktor Ilmu Komunikasi, Unpad, Bandung.






Nusantara

Menggenjot Produktivitas Pertanian Organik

Kabupaten Bantul

Satu hal yang ingin dicapai Pemerintah Bantul yakni kesejahteraan rakyatnya di segala sektor. Petani bukan saja dianggap sebagai kaum buruh semata, melainkan sebagai subyek penghasil utama. Bahkan, lahan pertanian yang ada bakal dialihfungsikan sebagai lahan pertanian organik untuk ke depannya.

Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari empat kabupaten yang termasuk dalam wilayah administrasi Propinsi Daereh Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 508,85 Km2 (15,905 dari luas wilayah propinsi DIY) dengan topografi sebagai dataran rendah 140 % dan lebih dari separuhnya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur.

Secara garis besarnya, Bantul terdiri dari bagian barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari utara ke selatan seluas 89,86 km2 (17,73% dari seluruh wilayah). Bagian tengah, adalah daerah datar dan landai merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62%). Bagian timur, adalah daerah yang landai, miring dan tejal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian barat , seluas 206,05 km2 (40,65%). Dan bagian selatan, merupakan bagian tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikit berlagu, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden, dan Kretek.

Sebanyak 1.400 ha lahan pasir yang berada di Kecamtan Kretek, Srandaka, dan Sanden bakal dimanfaatkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan. Persoalan pasokan air untuk irigasi dan lahan yang sebagian pasir perlu ada pemikiran untuk membuat lahan tersebut dapat digunakan untuk pengembangan tanaman pertanian. Ide ini salah satu bentuk terobosan yang menjadi pemikiran Bupati Bantul, Idham Samawi dalam mengenjot perekonomian Bantul secara keseluruhan.

Secara geografis, Bantul terletak antara 07° 44' 04" - 08° 00' 27" Lintang Selatan dan 110° 12' 34" - 110° 31' 08" Bujur Timur. Kabupaten bantul terletak di sebelah selatan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berbatasan dengan sebelah utara kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Gunung Kidul dan di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Kulon Progo.

Dalam data statistik, masyarakat Bantul menggantungkan hidupnya dari pertanian yang jumlahnya sekitar 49% atau setengah dari rakyat bantul. Urutan kedua adalah dari pasar tradisional yang berjumlah 32 pasar tingkat kabupaten dan berjumlah sekitar 15% sesuai data tahun 2000. Kemudian menyusul sektor kerajinan usaha kecil yang berjumlah 9%.

Ya, angka 9% tersebut lebih didominasi pada produk industri kerajinan cinderamata. Di kabupaten yang memiliki 17 kecamatan itu kini terdapat sejumlah sentra cenderamata, macam gerabah di Kasongan, barang kulit di Manding, topeng kayu di Pendowoharjo dan kerajinan bambu di Muntuk. Ada pula industri kerajinan batil di Imogiri dan Srandakan, perak dan imitasi di Banguntapan, keris di Girirejo, serta kerajinan serat gelas (fibres glass) di Karangjambe, Banguntapan.

Pemerintah kabupaten sendiri sangat serius menangani pengembangan industri kecil tersebut. Data dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul menunjukkan, tahun 1999 terdapat 17.741 unit usaha yang menyerap 56.512 tenaga kerja. Salah satu contoh adalah dalam pengembangannya mendapat binaan pemerintah setempat. Salah satu contoh adalah kerajinan tatah sungging (pahatan sosok wayang) yang sudah menjadi industri kecil unggulan. Di samping mampu menyerap tenaga kerja, pemasarannya telah merambah pasaran ekspor. Belum lagi keberadaan industri besar di kabupaten ini seperi pabrik gula Madukismo dan Pabrik tekstil Samitex.

Kendati sektor industri tumbuh subur di Bantul, tingkat pencari kerja di kabupaten ini juga lumayan tinggi. Tahun 1999, jumlah pencari kerja mencapai 10.147 orang. Salah satu upaya yang dirintis pemerintah kabupaten Bantul untuk mengatasi soal angkatan kerja, antara lain melalui progam pengelolaan kawasan industri rakyat. Kerajnan seluas 100 hektar di kecamatan Piyungan, ke arah kabupaten Gunung Kidul.

Sektor industri memang bukan satu-satunya sumber pemasukan kas daerah. Masih ada lagi sumber lain yang tak kalah potensialnya, yakni sektor pariwisata. Obyek wisata yang terkenal di daerah ini, antara lain Pntai Parangtritis dan pemakanan raja-raja Mataram di Imogiri. Ada pula Pantas Samas dan Pandan Simo yang merupakan tempat bertapa Pangeran Mangkubumi.

Obyek wisata itu juga menambah popularitas kabupaten yang konon berdiri pada tahun 1931 degan nama awal “Bantul karang”. Sektor pariwisata ini termasuk perdagangan, hotel, dan restoran baru mampu memberi kontribus sebesat 16,22 persen bagi kegiatan ekonomi Bantul tahun 1999.

SEKTOR ANDALAN: Sektor pertanian masih menjadi andalan utama pemasukan kas daerah. Di kabupaten seluas 506,85 kilometer persegi yang dipadati sebanyak 777. 748 jiwa (sensus penduduk 2000) itu sebagaian besar penduduknya mengandalkan hidup dari sektor pertanian. Luas areal pertanian mencapai 16. 596 ha lahan sawah dan 28. 671 ha lahan kering.

Tahun 1999 daerah ini menghasilkan 139.988 ton padi dari 26.711 hektar luas panen. Sektor pertanian telah menjadi kontributor terbesar bagi kegiatan ekonomi bantul. Tiap tahun sektor ini rata-rata menyumbang sekitar 24 persen, bahkan terjadi peningkatan di tahun 1999 menjadi 29,22 persen.

Selain padi, tanaman palawija juga tumbuh subur di daerah ini. Tanaman seperti jagung, ubi kayu, ubi jalat, kedelai, dan kacang tanah mampu menghasilkan ribuan ton tiap tahun. Belum lagi sayuran, perti bawang merah, bawang putih, cabai, kacang panjang, dan bayam. Tanaman kelapa yang menjadi bahan baku utama pembuatan geplak juga banyak tumbuh di daerah ini.

Di sektor pertanian, pemerintah kabupaten Bantul menyediakan anggaran sekitar Rp3,5 miliar untuk membeli hasil pertanian di daerah tersebut ketika harga jatuh. Dengan dana tersebut Pemkab bersedia membeli dengan harga lebih tinggi dibandingkan yang diputuskan pemerintah.

Kepala Dinas pertanian dan Kehutanan, Edy Suharyanto mengatakan, setiap musim panen biasanya harga hasil panen selalu jatuh. Sehingga perlu adanya penyelamatan hasil produk pertanian. Produk pertanian yang dibeli oleh Pemkab antara lain padi, jagung, kacang tanah, bawang merah, cabai merah, dan kedelai.

Untuk harga dari produk pertanian tersebut menurut Edy sudah ditetapkan hargaya. Untuk gabah pihaknya mematok harga Rp 2.100/kg, jagung Rp 2.000/kg, kacang tanah basah Rp 1.500/kg dan kering Rp 3.000/kg, bawang merah Rp 2.800/kg, cabe merah Rp 1.500/kg dan kedela Rp 2.500/kg.

Ketetapan harga tersebut untuk mengatasi jika harga di pasaran sedang tidak baik atau di bawah harga yang Pemkab tetapkan. Untuk gabah, harga yang ditetapkan oleh Pemkab Bantul lebih tinggi dari ketetapan pemerintah sebesar Rp 100kg. Pemerintah menetapkan harga pembelian petani sebesar Rp 2.000/kg. Untuk harga gabah pemkab mematok harga Rp 2.100/kg.

Menurut Edy, pihaknya juga tidak memaksa petani untuk menjual hasil panennya kepada Pemkab Bantul. Jika memang mekanisme pasar mendukung, petani dipersilahkan untuk mengukutinya. Untuk 2008, pihaknya sudah membeli gabah sebanyak 20 ton. Jumlah tersebut di dapat dari paen pertama pada tahun ini. Bahkan, tanpa disangka-sangka di bidang pertanian, Bantul mampu menghasilkan 7,3 ton gabah per ha.

Angka tersebut lebih banyak dibandingkan produksi gabah kering pungut (GKP) nasional yag baru mencapai 5,5 ton per ha. Sebuah angka yang cukup signifikan, terlebih Bantul meruapakan daerah yang berlahan pasir. Untuk mengenjot sektor pertanian ini, Idham Samawi juga lagi gencar-gencarnya menyuarakan soal pertanian organik di Bantul.

Sebanyak 48 varietas benih padi lokal dan nonlokal organik ditangkar di Dusun Paten, Sumberagung, Jetis, Bantul, DI Yogyakarta. Benih padi organik ini nantinya akan disebarkan kepada para petani di seluruh Indonesia dan diharapkan akan membuka jalan menuju pertanian organik nasional tahun 2010 nanti. PIT

***

Wawancara Bupati Bantul
Drs. HM. Idham Samawi

Keberhasilan yang diraih Kabupaten Bantul tentunya tak terlepas dari peran kebijakan sang pemimpin. Ya, sosok pemimpin yang bersahaja, tanggung jawab, dan mampu merealisasikan inspirasi dan kebutuhan rakyat, sudah tentu menjadi dambaan rakyat. Lewat program, strategi dan kebijakan yang dicetuskan Drs. HM. Idham Samawi menjadikan Bantul lebih berprestasi. Tidak heran, jika Idham dipercayakan sebagai Bupati Bantul dua periode berturut-turut.

Satu hal yang menjadi pemikiran dan visinya yakni ingin melihat rakyatnya sejahtera. Untuk mencapai visi tersebut, Idham tidak pernah lelah untuk memberikan dukungan dan pemikirannya melalui program-program kerakyatan guna mengantarkan Bantul menjadi kebupaten mandiri dan berdaya saing.

Bahkan, ia amat bercita-cita menjadikan Bantul sebagai daerah yang produktif dengan memanfaatkan pertanian organik sebagai terobosan. Melalui dedikasinya, di bidang pertanian, Bantul mampu menghasilkan 7,3 ton gabah perhektar. Angka tersebut lebih banyak dibandingkan produksi Gabah Kering Pungut (GKP) nasional yang baru mencapai 5,5 ton perhektar.

Sudah puaskan beliau terhadap angka tersebut? Lalu, bagaimana pemikiran-pemikirannya dalam memajukan kesejahteraan rakyat Bantul? Berikut wawancara eksklusif Safitri Agustina dari majalah PADI saat ditemui di rumah dinasnya di Trirenggo, Bantul, Yogyakarta:

Bagaimana kondisi Bantul pada awal Anda menjabat sebagai Bupati Bantul tahun 1999?
Saat pertama kali, saya tidak mau memimpin dengan meraba-raba di tempat yang gelap, sehingga saya tidak tahu apa isinya. Di tahun pertama menjabat, agak miris ya melihat kondisi Bantul secara keseluruhan. Makanya, untuk membenahi kondisi tersebut saya tidak segan untuk membuat strategi dan kebijakan yang tentunya bisa mendongkrak sektor perekonomian. Tentunya, ada pro dan kontra soal kebijakan tersebut.

Hal lain yang perlu dibenahi adalah sektor pertanian. Mengingat sekitar 49% masyarakatnya menggantungkan hidupnya di sektor ini, 19 % di pasar tradisional, dan sisanya 9% di bidang kerajianan. Angka 49%, berarti separuh masyarakat Bantul, hidup sebagai petani, makanya saya berpikir sektor ini harus menjadi perioritas, walau tak menutup kemungkinan sektor riil lainnya juga harus diperhatikan. Pikiran saya saat itu, bagaimana membuat rakyat Bantul hidup sejahtera. Inilah yang menjadi inspirasi saya dalam memimpin.

Khusus pertanian, bagaimana kondisinya?
Ketika itu tanah pertanian yang ada di Bantul, ada sekitar 16 ribu ha lebih. Tapi hampir 3.000 ha belum teraliri air. Kebayang dong, pertanian tanpa air? Sudah pasti hasil produksinya juga menurun, banyak petani yang gagal panen gara-gara sawahnya kering. Maka, salah satu tugas pertama saya adalah membangun irigasi. Ternyata untuk membangun irigasi itu mahal sekali, saya hanya mampu mengairi kurang dari 2.000 ha. Pemkab memprioritaskan pembangunan bendungan primer dan sekunder. Bahkan rakyat bisa terlibat dalam bendungan tertier dan kwarter.

Perioritas utama Anda adalah kesejahteraan rakyat. Langkah apa yang Anda tempuh untuk mencapainya?
Upaya kesejahteraan petani tidak hanya tanggung jawab bupati semata, tetapi juga sampai ke seluruh jajaran aparatur terkait. Untuk mencapai hal tersebut, saya seringkali melibatkan PNS Bantul dalam pendistribusian hasil panen petani seperti beras, bawang merah, cabai dan lainnya. Ada PNS yang ikut menjual cabai sampai ke pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka juga pernah jualan 16 truk. Bahkan untuk komoditi bawang merah sudah sampai Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan. Uapaya ini demi membantu para petani Bantul.

Pastinya ada pro dan kontra terhadap kebijakan yang Anda ambil? Bagaimana Anda mengatasi hal ini?
Sudah pasti. Pernah ya, ada seorang bupati yang sempat melontarkan kritik atas kebijakan Bantul soal pertanian. Menurut sang pengkritik, dalam penjualan tersebut seharusnya mekanisme pasar yang terjadi. Tapi Bantul tetap teguh pada pendiriannya, petani tetap harus diberi proteksi. Bagaimana pun kapitalnya negara seperti AS, perlindungan terhadap petani tetap dilakukan. Permainan tengkulak itu luar biasa dan petani tidak mungkin mengimbangi.

Dalam hitung-hitungan itulah maka satu-satuanya yang bisa menyeimbangkan kekuatan hanya pemerintah. Intervesi dilakukan ketika pasar tidak sehat, tetapi disaat pasar sehat pemerintah hanya mengawasi, karena tugas pemerintah hanya menyeimbangkan bukan mencari keuntungan. Inilah seharusnya tugas utama Perum Bulog.

Selain soal pemasaran, apa hal lain yang menjadi kendala dalam sektor pertanian?
Soal penelitan padi di Indonesia yaitu tempat penelitiannya hanya ada di Sukamandi, Jawa Barat. Yang menjadi masalah adalah apakah iklim dan alam Sukamandi sama dan cocok dengan Bantul atau daerah lainnya dan bibit padi yang ditanam di sana cocok? Mungkin itu yang harus dipikirkan oleh pemerintah pusat. Saat ini, Bantul punya 4 varietas padi yang ditemukan di bumi Bantul dan cocok dengan iklim Bantul yang mampu menghasilkan di atas 9 ton per ha dalam sekali panen.

Seperti kita ketahui harga pupuk melambung tinggi, strategi apa yang Anda miliki dalam penggunaan pupuk?
Bantul sangat berhati-hati dalam penggunaan pupuk produksi pabrik. Karena hasil penelitian dan pengalaman di lapangan ternyata pupuk ini dapat merusak tanah dalam waktu panjang. Saat ini kita baru menyarankan dan pada waktunya nanti kita buat aturannya untuk melarang penggunaan pupuk pabrik. Langkah konkret yang sedang dilakukan Pemkab adalah dengan sosialisasi penggunaan pupuk pabrik yang layak untuk mengembalikan kesehatan tanah.

Penggunaan maksimal pupuk pabrik semacam ini hanya 200 kg/ha yang tadinya 1.200 kg/ha. Kondisi tanah yang baik di Bantul saat ini hanya 80%. Selebihnya rusak karena pupuk. Pengurangan dan pada gilirannya pelarangan total penggunaan pupuk pabrikan jelas membutuhkan pupuk alternatif.

Dan, pupuk kandang menjadi pilihan
Pemkab saat ini merancang peraturan daerah untuk melarang keluarnya kotoran hewan dari Bantul. Ini bukan tanpa masalah yaitu menyangkut jarak antara pembersihan kandang hewan dengan masa tanam. Dalam beberapa kejadian di lapangan ada jeda karena pada saat masa potong sudah selesai, tetapi saat yang bersamaan petani belum membutuhkan pupuk. Akhirnya kita membuat staregi dengan membuat unit-unit usaha atau BUMD yang akan mengatur. Atau pemerintah dulu yang membeli lalu pada saatnya kita jual kepada petani tanpa untung.

Bagaimana dengan harga gabah yang sering menyusahkan petani?
Dalam kurun waktu 20 tahun tiada panen tanpa jatuhnya harga gabah. Ini riil loh, harga jatuh terlama itu 173 hari dan paling pendek 41 hari. Sedangkan rata-rata 20 tahun kurang lebih 50 hari harga gabah jatuh. Suply tinggi, tetapi demand tetap mengakibatkan turunnya harga. Cara mengatasinya adalah dengan mengambil suply yang ada di pasaran sampai harga normal lagi, dan mengeluarkannya lagi ke pasaran begitu suply menipis. Dalam situasi normal, kita kembalikan lagi pada mekanisme pasar.