Selasa, 29 April 2008

Opini

Revitalisasi Mesin Penggilingan

Oleh: Hery Artono

Pada tahun 1984 Indonesia mencatat prestasi gemilang di bidang pertanian, yaitu swasembada pangan. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran serta semua pihak, dari masyarakat petani, pemerintah, pelaku usaha, serta pihak lainnya yang terkait dengan pertanian. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah sentuhan teknologi pra panen yang turut berperan menentukan keberhasilan Indonesia di bidang swasembada pangan. Di antaranya adalah teknologi pengolahan tanah, irigasi, dan teknologi pembibitan untuk menghasilkan bibit unggul. Selain itu, pemakaian pupuk yang berimbang dan penggunaan pestisida sesuai dengan takarannya.

Tapi, prestasi tersebut kini hanyalah sebuah romantisme masa lalu. Prestasi itu terus menurun. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan hal itu. Pertama, kejenuhan tanah atau pemiskinan, di mana lahan persawahan di Pulau Jawa dan beberapa daerah lumbung pangan di luar Pulau Jawa yang mempunyai kandungan bahan organik (BO) kurang dari 1% sudah semakin luas. Dari tahun 1984-1999, luas lahan persawahan yang kandungan bahan organiknya kurang dari 1% telah mencapai 65%-80%. Kedua, masyarakat sebagai konsumen yang menjadikan beras sebagai sumber makanan pokok, pada umumnya menghendaki beras yang berkualitas.

Bila di masa lalu Indonesia mampu meraih prestasi yang sangat gemilang di bidang produksi pangan, maka pertanyaannya adalah mengapa sekarang tidak bisa? Untuk kebangkitan pertanian sekarang ini kita tidak usah malu-malu untuk mencontoh cara-cara yang telah dilakukan oleh petani-petani pendahulu, atau setidaknya mana cara lama yang masih relevan dan baik untuk kita contoh. Hal-hal lain adalah perbaikan atau pembuatan irigasi baru dan pembukaan lahan baru, pemakaian pupuk yang terukur dan berimbang, serta pemakaian pestisida yang ramah lingkungan.

Di atas semua itu, yang tidak kalah pentingnya adalah teknologi pasca panen, karena bagaimanapun keberhasilan dan kualitas swasembada pangan adalah perpaduan antara proses pra panen dan pasca panen. Teknologi pasca panen itu meliputi mesin pemotong padi (ripper), mesin perontok (thresser), mesin pengering (dryer), dan mesin Penggilingan Padi (PB)

Teknologi atau peralatan yang kita sebutkan di atas pada umumnya memang sudah tersedia, tapi mungkin sebagian sudah ketinggalan jaman, baik dari model maupun kapasitas produksinya. Dan, dari teknologi-teknologi di atas yang juga harus kita perhatikan adalah mesin penggilingan padi yang menjamin kualitas beras yang baik dan bergizi. Untuk kepentingan ini perlu dibuat strategi baru dalam penyusunan dan pengadaan mesin-mesin tersebut. Di antaranya adalah:

1. Di tingkat petani disediakan mesin dryer dan mesin pemecah kulit (husker), bagi penggilingan beras disediakan mesin pemutih (whiter) yang tentu saja tanpa pemakaian bahan kimia yang berbahaya, mesin pengkilap (polysher), dan mesin pemisah beras (grader).

2. Pada penggilingan beras disediakan mesin pemisah batu (destoner), mesin pemisah beras (grader), mesin pemilih warna (colour soter), serta mesin pemutih dan pengkilap beras (whitener and polysher)

Dua hal di atas menunjukkan proses penggilingan beras yang prosedural dan tertata rapi, di mana terlihat adanya pemerataan proses antara petani dan penggilingan beras, yaitu petani menyediakan bahan baku sampai proses awal, dan proses selanjutnya sampai proses akhir dilakukan oleh penggilingan beras. Inilah yang harus kita cita-citakan bersama, sebagai salah satu langkah menuju ketahanan pangan yang berkualitas, yakni dengan cara merevitalisasi mesin penggilingan.

Penulis adalah pengurus DPP PERPADI

Tidak ada komentar: