Rabu, 26 November 2008

Opini


SISTEM PENGGILINGAN PADI
Oleh Ir. Abdul Waries Patiwiri, MM

Penggilingan padi merupakan salah satu tahapan pasca panen padi yang terdiri dari rangkaian beberapa proses untuk mengolah gabah menjadi beras siap dikonsumsi. Proses pengolahan inilah yang telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. diawali dengan menggunakan penggilingan padi manual, yaitu proses menumbuk padi dengan menggunakan alu dan lesung hingga menggunakan mesin dengan teknologi yang canggih. Peralatan ini terdiri dari berbagai rangkaian yang disebut dengan sistem penggilingan padi.

Sistem penggilingan padi merupakan rangkaian mesin yang berfungsi untuk melakukan proses giling gabah, yaitu dari bentuk gabah kering giling sampai menjadi beras siap dikonsumsi. Di Indonesia, sistem ini biasa disebut pabrik penggilingan padi. Umumnya sistem ini terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu husker, separator, dan polisher. Bagian lainnya hanya merupakan pendukung agar dapat memperoleh hasil akhir yang lebih baik.

Dari sejarahnya, sistem penggilingan padi pertama kali diproduksi di benua Eropa dengan mekanisme kerja sangat sederhana yang dinamakan mesin tipe Engelberg. Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas, para ahli di Eropa merancang mesin yang lebih canggih dan modern, dengan sebutan baru, tipe Euro.

Tipe yang muncul berikutnya adalah tipe buatan Jepang. Tipe ini memiliki rancangan lebih sederhana dan setiap mesin saling terintegrasi satu sama lain. Pada awalnya Jepang hanya memproduksi untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Namun, karena tipe mesinnya relatif sederhana dan murah, penggilingan padi buatan Jepang banyak digemari di negara-negara penghasil padi, termasuk Indonesia.

Selain dibedakan berdasarkan negara pembuatnya, penggilingan padi juga dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat teknologi, kelengkapan alat yang digunakan, serta kapasitas produksinya. Berdasarkan tingkat teknologi, penggilingan padi dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu penggilingan padi sederhana, kecil, besar, pengolahan padi terpadu, dan country elevator.

Penggilingan padi sederhana (PPS) merupakan unit peralatan teknik yang berfungsi sebagai mesin pengolah gabah menjadi beras. Dikatakan sederhana karena teknologi yang digunakan sudah dikenal sejak mulai adanya mesin penggilingan padi sederhana sampai saat ini secara turun-temurun tanpa mengalami perubahan berarti. Beberapa menis PPS antara lain mesin tipe Engelberg dan kombinasi dari beberapa mesin khususnya husker, separator, dan polisher.
Penggilingan padi kecil (PPK) merupakan gabungna dari beberapa mesin menjadi satu kesatuan utuh yang berfungsi sebagai pengolah gabah menjadi beras dengan kapasitas lebih kecil dari 2 (dua) ton per jam gabah kering giling. Sistem PPK ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tipe sederhana dan tipe lengkap.

Sedangkan yang disebut dengan penggilingan padi besar (PPB) atau biasa disebut dengan rice miller plant merupakan gabungan dari beberapa mesin yang juga berfungsi sebagai pengolah gabah menjadi beras dengan kapasitas lebih dari 2 (dua) ton gabah kering giling per jamnya. Sistem pengolahan ini setidaknya harus melalui empat proses utama, yaitu proses pembersihan gabah, proses pecah kulit, proses pemisahan gabah dengan beras pecah kulit, dan proses pemutihan beras pecah kulit secara berulang, antara dua hingga empat kali. Bahkan, PPB umumnya dilengkapi dengan peralatan tambahan berupa elevator, pemisah batu (destoner), pemisah menir (sifter), pengelompokan kualitas beras (grader), bak penampung beras berdasarkan tingkat kepatahan, pengepakan, dan siklon sebagai tempat penampung bekatul.

Ada pula pengolahan padi terpadi (PPT) yang merupakan gabungan unit proses pembersihan awal, pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengepakan yang satu sama lain dihubungkan dengan elevator, dengan kapasitas besar. Sistem PPT tergolong sangat komplek dan masing-masing pabrikan memiliki ciri khas tersendiri. Di Korea, sistem ini dikenal dengan sebutan rise processing complex (RPC), karena proses padi basah (gabah kering panen) menjadi beras sosoh dilakukan dalam satu tempat walaupun dalam waktu yang berbeda.

Sementara itu, country elevator (CE) merupakan penggilingan padi terpadu yang berlokasi di tengah sentra produksi padi dan terintegrasi dengan areal persawahan berskala besar, sehingga hasil panen padi langsung dibawa ke tempat pengolahan tersebut. CE pertama dipopulerkan di Jepang dan dimiliki oleh koperasi petani atau pemerintah Jepang.

Sebagai sebuah satu kesatuan tak terpisahkan, sistem penggilingan padi ini senantiasa terkait satu sama lain. Tiadanya kelengkapan dalam sistem ini akan berpengaruh pada hasil produksi beras. Untuk itu, sistem ini begitu vital sebagai alat yang berfungsi mengolah gabah kering giling menjadi beras berkualitas dan siap dikonsumsi publik.

Penulis adalah Direktur Operasional Perum Bulog





Tidak ada komentar: